“Catatan Lama”

Bismillah, saya buka blog ini dengan “Catatan Lama”, sebuah catatan penting tentang salah satu hal paling fundamental dalam hidup. bahwa semua yang terdapat pada alam semesta ini bergerak, mari iringi geraknya dengan gerak terbaik, yang semesta jugalah yang ‘kan menjadi saksi..

“Al harakah mubarakah. Pergerakan itu membawa barakah/ kebaikan.”

Pada mulanya saya tidak begitu setuju pada pepatah itu. “Ah, belum tentu,” pikir saya. Tapi kemudian saya teringat pada ayat-ayatNya. Bukankah semua yang Ia ciptakan bergerak? Tak hanya makhluk hidup, benda mati pun sesungguhnya bergerak. Mulai dari yang besar, seperti alam semesta.

Bumi berotasi.

Bumi sendiri berutar mengelilingi matahari.

Dan matahari berputar mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti.

Dan ada kecenderungan galaksi-galaksi bergerak menuju satu arah di langit yang disebut sebagai “The Great Attractor”

Dengan gerak inilah Allah mempertahankan langit agar tidak runtuh.

“… Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” [QS Al Ghaasyiyah: 18]

“Dan sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap…” [QS Faathir: 41]

Tanpa adanya gerak, niscaya planet-planet sudah lama “hilang”. Sebagian tertarik ke dalam matahari, sebagian lagi mengembara ke angkasa luar yang tak berujung. Namun karena planet berevolusi mengelilingi matahari, terjadilah gaya sentripetal yang mengimbangi gaya gravitasi matahari, membuat planet tetap berada pada orbitnya.

Atau bagaimana jika bumi berhenti berotasi? Niscaya separuh bumi ini akan “terpanggang” matahari hingga suhunya mencapai 110 derajat celcius dan separuh bagian lainnya membeku hingga -173 derajat.

Benda-benda yang lain pun juga bergerak.

Mungkin antum pernah pula membaca artikel ttg.gunung.

“…. dan gunung-gunung itu sebagai pasak…” [QS An Naba: 7].

Gunung menahan laju lempeng litosfer bumi salah satunya dengan cara bergerak “tumbuh” makin tinggi. Gunung HImalaya, misalnya, tumbuh 3 cm tiap tahunnya (artikel tentang ‘geologi dalam Al Qur’aan’ dijabarkan lengkap dalam makalah Profesor Zaghlul Raghib Muhammad Al Najjar, dosen Universitas King Fahd, Arab Saudi).

Sampai pada atom, mereka pun bergerak. Tak ada yang benar-benar diam di alam semesta ini…

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya, mau tak mau saya pun menyetujui pepatah tersebut.

Al harakah mubarakah.

Dan, belum hilang kekaguman saya pada kebenaran pepatah itu, saya dihadapkan pada satu pepatah lagi:

“Setan menemukan pekerjaan pada tangan-tangan yang malas.”

Sebagaimana kita ketahui, orang yang malas adalah orang yang enggan bergerak. Enggan menggerakkan otaknya untuk berpikir, enggan menggerakkan tangannya untuk menulis, enggan menggerakkan matanya untuk membaca textbook…. enggan untuk melakukan segala sesuatu.

Jujur, saya tertegun ketika pertama kali membaca pepatah tersebut. Saya merasa malu mengingat banyaknya waktu yang terbuang percuma dari sikap saya yang suka menunda-nunda pekerjaan, mengingat betapa mudahnya saya berkata, “Ah, nanti saja. Toh masih ada waktu.” Masya Allah… Saat itu saya baru benar-benar sadar, betapa rasa malas itu telah begitu melekat pada diri saya.

Ust Anis Matta menuturkan, “Saat terjadinya haji Wada’, jumlah ummat Islam yang hadir kurang lebih 125.000 (total penduduk dunia waktu itu sekitar 100 juta orang). Dari 125 ribu muslim tersebut, terdapat kurang lebih 100 hingga 110 ulama. Namun, yang benar-benar merupakan ulama besar hanya 7 orang. Dua diantaranya adalah Umar bin Khaththab dan Abdullah bin Mas’ud.”

Dua ulama besar kita ini pernah menasehatkan tentang rasa malas.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sungguh aku benci pada orang yang kulihat menganggur, tak sedang melakukan aktivitas duniawi dan tidak pula sedang melakukan ibadah ukhrawi.”

Sedangkan Umar bin Khaththab kerap mengungkapkan kekecewaannya terhadap orang yang dia temui sedang bermalas-malasan, “Mengetahui bahwa dia tidak sedang bekerja, dia adalah orang yang tidak memiliki nilai di mata saya.”

Maulana Wahiduddin Khan dalam bukunya, The Moral Vision: Islamic Ethics for Success in Life (diterbitkan di Indonesia oleh Robbani Press dengan judul Psikologi Kesuksesan) menulis, “Dia (orang yang malas) tidak pernah bersentuhan dengan realita dan akan segera tenggelam dalam kejumudan. Tidak ada orang yang benar-benar unggul di kalangan orang-orang malas.”

Kita kembali pada pepatah sebelumnya,

1. Al harakah mubarakah, pergerakan itu membawa kebaikan.

2. Setan menemukan pekerjaan pada tangan-tangan yang malas.

3. Salah satu akar kata setan (syaithan) adalah syathana, yang berarti jauh dari kebaikan.

Jika dirunut dengan logika matematika, “Setan menemukan pekerjaan pada tangan orang yang enggan bergerak (malas). Orang yang enggan bergerak, tidak akan mendapat kebaikan (jauh dari kebaikan). Karena setan jauh dari kebaikan, maka kesimpulannya, orang yang enggan bergerak adalah setan.”

Jadi, setan berusaha menyusupkan rasa malas di hati kita agar kita ikut menjadi setan seperti mereka.

Ingatlah sumpah iblis ketika diusir oleh Allah swt, “Karena Engkau menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” [QS. Al A’raaf: 16-17]

Malas adalah tipu daya setan yang masuk dalam “The Big Three” (“prestasi godaan”nya hampir seperti syahwat dan riya’). Malas berdampak menghancurkan potensi diri. Syahwat berdampak menghancurkan lingkungan. Dan riya’ berdampak menghancurkan amalan-amalan akhirat.

Na’udzubillahi min dzalik…. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita agar tidak lagi terjebak pada rasa malas…..

Untuk menutup artikel ini, ada sebuah kisah nyata yang dialami salah seorang saudara kita.

Alkisah, ia sudah beberapa bulan meninggalkan amanah-amanah da’wah. Masalahnya sepele, ia kehilangan ghirah/ semangat berjuang. Sampai-sampai, gerimis bisa menghalangi niatnya untuk pergi ke masjid. Berbulan-bulan ia absen dari majelis-majelis ta’lim dan halaqah. Ia benar-benar sibuk mengurus dirinya sendiri. Hingga suatu ketika, ia menyadari kekeliruannya. Ia pun bangkit dari kemalasannya dan bertekad untuk kembali seperti dulu.

Tepat ketika ia mengucapkan tekad itu, ia melihat sebuah pamflet undangan mabit malam Ahad di sebuah tempat yang beralamat di Jl. Pajajaran 164 Bandung. Ia tidak tahu alamat tempat itu. Maklum, ia bukan orang asli Bandung. Tapi karena tekadnya sudah bulat, pada hari Sabtu, ia berangkat juga. Selepas maghrib, dengan berbekal peta, ia naik angkutan kota. Tikungan demi tikungan terlewat sudah. Dan akhirnya, angkutan yang dinaikinya mulai memasuki Jl. Pajajaran. No 2…. no 6….. no 10…. Ia terus mengawasi nomor gedung di sepanjang jalan itu.

Sekitar nomor 30-an, angkutan berbelok ke sebuah tikungan, menjauh dari jalan Pajajaran. Saudara kita ini pun turun dari angkutan. Ia menyusuri Jl. Pajajaran dengan berjalan kaki.

Belum lama berselang, terdengar suara adzan. Kebetulan, tak jauh dari situ, ada sebuah masjid.

Subhanallaah…. ternyata masjid itu milik panti sosial penyandang tuna netra Wiyataguna. Saudara kita, si fulan, berkesempatan membantu beberapa tuna netra berjalan menuju shaf terdepan dan membantu mereka meluruskan barisan shafnya. Seusai shalat Isya’, Fulan melanjutkan perjalanan…..

Cukup jauh ia berjalan, hingga sampai di sebuah persimpangan (perempatan jalan). Ia memperhatikan, nomor-nomor genap bersambung terus hingga berbelok ke kanan, ke arah kompleks bandara Husein Sastranegara. Ia berhenti. Ragu pada apa yang akan dilakukan, ia menyusuri jalan-jalan lain di sekitar persimpangan itu. “Oh, yang ini sudah bukan jalan Pajajaran. Yang ini jalan Terusan Pajajaran”.

Lama ia berputar-putar di sekitar tempat itu, hingga kemudian ia bertanya pada orang-orang. Sudah banyak yang ia tanyai, namun tak satu pun memberikan jawaban yang memuaskan. Fulan pun kembali mengembara, menyusur ulang jalan-jalan yang telah dilewatinya.

Satu jam berlalu….. Ia kini merasa yakin, satu-satunya tempat yang belum ia periksa adalah kompleks perumahan bandara Husein Sastranegara. Ia pun menuju ke sana untuk meneruskan pencariannya.

Kakinya sudah terasa berat. Namun dengan semangat ia mengayunkannya, melangkah setapak demi setapak dengan pasti. Namun, sama seperti sebelumnya, ia tidak menemukan alamat yang dicarinya. Ia juga sudah bertanya pada penduduk sekitar, pada satpam, pada petugas militer yang menjaga tempat itu….. namun tak ada yang tahu.

Dalam kegelapan malam, sepintas, ia membaca tulisan “IPTN” terukir di dinding sebuah gedung di kanan jalan. Ia tersentak. Jangan-jangan, Jl Pajajaran no 164 adalah masjid Habiburrahman (masjidnya IPTN). Maka ia pun bergegas ke sana, menyusuri jalan memutar, melintasi bandara, melalui jalan yang gelap dan sepi. Ternyata, masjid itu kosong. Tak ada aktivitas apa pun di sana.

Rasa kecewa bergumpal di dadanya. Tiba-tiba, ia merasa sangat lelah. Sangat capek. Ia pun segera keluar kompleks dan mencari angkutan, pulang.

Di tengah jalan, sopir angkutan berubah pikiran. Ia ingin pulang. Fulan pun diturunkan di tengah jalan. Malam memang sudah mulai larut. Jam sepuluh. Sudah sangat susah mencari angkutan untuk pulang. Maka, Fulan pun pulang dengan jalan kaki…… Tiba-tiba di tengah jalan, Fulan bertemu dengan seorang aktivis. Mereka pun terlibat percakapan. Fulan menceritakan pengalamannya di hari itu.

“Mabitnya kan Sabtu depan?” kata sang aktivis. Fulan pun terhenyak. Memang, Fulan tidak memperhatikan tanggal pelaksanaannya. Ia hanya tahu, diadakan malam Ahad, di jalan Pajajaran no 164.

Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, “Mengapa hal ini bisa terjadi? Kenapa untuik mencari sebuah alamat tempat mabit, harus jalan kaki selama berjam-jam? Masih keliru tanggal, pula!” Perjalanan ke rumah yang masih jauh memberinya cukup waktu untuk berpikir. Kemudian ia pun paham….

Ini adalah pertama kalinya ia kembali ke dunia dakwah. Allah ingin melatih stamina dan otot-ototnya yang kaku agar kembali bugar seperti dulu. Apalah arti seorang aktivis dakwah jika ia mudah lelah –sehari beraktivitas, sehari berikutnya ia tidur kecapekan di rumah–?

Allah juga hendak mengajarinya arti sebuah mujahadah, perjuangan. Betapa ia selama ini tak punya ghirah, mudah menyerah….. Tentunya, diperlukan mujahadah agar ia dapat istiqomah di jalan dakwah yang panjang, berkelok, mendaki dan penuh duri. Sama seperti mujahadahnya mencari alamat mabit di malam itu.

Sebelum ia menempa ruhiyahnya kembali, sebelum ia beraktivitas lagi… Allah ingin ia melatih fisik dan mentalnya terlebih dahulu. Agar ia dapat menjadi seorang aktivis yang lebih baik. Yang tidak mudah menyerah, yang mampu menghasilkan beberapa karya besar. Dan Allah juga memberikan sebuah kado kecil untuknya…. Saudara-saudara tuna netra yang tentu akan selalu mengingatkannya pada hadits Rasulullah saw:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Telah datang kepada Nabi saw, seorang lelaki buta.

Kemudian ia berkata, ‘”Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid.”

Lalu dia mohon kepada Rasulullah saw agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.

Maka Rasulullah saw memberikan keringanan kepadanya.

Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau saw memanggilnya seraya bertanya, “Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu).”

[HR. Muslim]

Sehingga ketika ia merasa malas, ia akan selalu ingat pada para tuna netra yang ditemuinya malam hari itu. Ia akan selalu ingat bahwa mereka dengan penuh mujahadah berusaha menhadiri shalat jamaah di masjid. Meskipun dengan kondisi yang tuna netra.

Fulan tak akan pernah melupakan, ia harus senantiasa bergerak. Ia harus selalu bergerak seperti malam itu, walau seakan tampak tak ada jalan di depan, walau harus melalui berbagai rintangan. Ia tak akan putus harapan. Karena ia adalah seorang pejuang yang menjadi penggerak ummat. Karena ia adalah seorang muharriq.

Dan satu hal yang pasti, malam itu Fulan sampai pada pemikiran, “Ya Allah, sungguh Maha Sempurna ketetapanMu, sungguh indah kebijaksanaanMu, betapa lembutnya tarbiyahMu. Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa. Subhaanaka fakina adzaabannaar. Dengan izinMu, dengan iradahMu, perkenankanlah aku menggunakan seluruh waktuku untuk melangkah di jalanMu, karena sesungguhnya tiada satu detik pun yang kulewatkan di jalanMu, melainkan ia bermanfaat bagiku.”

Al harakah mubarakah. Pergerakan itu membawa barakah……

(Evan I. Akbar)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s