Die as Supernova

supernovae of Cassiopeia A

Banyak orang menyukai bintang. Alasannya karena bintang itu menyinari, atau karena bintang itu memproduksi cahayanya sendiri. Filosofis. Menyukai bintang, dan berharap diri kita bisa seperti bintang yang menyinari sekeliling dengan cahaya kita sendiri.

Saya pun dulu demikian. Namun apa yang saya dapatkan dari kujungan maya saya ke National Gepgraphic barusan membuka cakrawala saya lebih lebar lagi.

“Some stars behave as if it’s better to burn out than to fade away. Stars end their evolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.”

Jika kita bercita-cita ingin seperti bintang karena cahayanya, maka kehidupan bintang ini memberi kita inspirasi lainnya. Sebuah bintang lebih memilih meledakkan dirinya daripada memudar cahayanya. Persis. Persis seperti apa yang almarhum Ust. Rahmat Abdullah tuliskan dalam Tubuh Yang Luluh Lantak.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.”

Para pendahulu telah mengajari kita, betapa mereka hidup dengan kehidupan yang mengikuti tabiat alam semesta. Berjama’ah seperti koloni semut, saling menyemangati seperti sekawanan burung, bermanfaat seperti lebah, dan mati seperti bintang yang men-supernova. Pendahulu kita, sepanjang hidup menyinari sekeliling dengan cahaya yang begitu terangnya, dan mengakhirinya dengan ledakan dahsyat yang membuat mereka tampak lebih terang bercahaya, bahkan kematiannya adalah puncak kecerlangan cahayanya.

Tanpa ingin berpanjang, izinkan saya mengutip satu baris lagi dari tulisan beliau rahimahullah,

“Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…”

Betapa…

Ingin menjadi seorang yang dimaksud dalam baris di atas.

Ingin menjadi salah satu bintang dalam galaksi da’wah yang terus berputar ini.

Ya, galaksi da’wah ini akan terus bergerak dengan kecepatan luar biasa, menuju gravitasi mahadahsyat yang pernah ada: The Great Attractor.

“Fa idzaa faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab…”

Teruslah mengalun di sini, wahai kalam Ilahi.

*a repost, 31 Des ’09

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s