Ia yang Dipanggil ke Langit

Terbukalah atap, sedang lelaki itu ada di Makkah. Sang Ruhul Amin turun dari puncak ufuk langit. Dada lelaki itu lalu dibelahnya, dibersihkannya dan dibilasnya dengan air zam-zam. Sebuah bejana gemerlap dari emas didatangkan ke hadapannya. Sang Utusan Langit lalu mengisi hati lelaki itu dengan hikmah dan iman dari bejana itu. Lalu menutupnya seperti semula, tanpa meninggalkan jejak luka.

Kemudian ia memegang tangan lelaki itu, menaikkannya pada binatang seukuran di bawah baghal tetapi di atas himar, lalu keduanya melesat naik ke langit dunia. Sekali binatang itu melangkah, sejauh mata memandang terlampaui sudah. Ketiganya serupa debu yang terhambur di tengah semesta tak bertepi.

Ketika sampai ke langit dunia, Sang Ruhul Amin berkata kepada penjaga langit, “Bukakanlah, wahai penjaga langit!”

Penjaga langit berkata, “Siapakah kisanak ini?”

Ia menjawab singkat, “Aku Jibril.”

“Apakah engkau beserta seseorang, wahai Jibril?”

“Ya. Aku beserta Muhammad shollallôhu ‘alaihi wasallam.”

“Apakah ia telah dipanggil?”

“Ya!”

“Berbahagialah dengan dia,” sambut penjaga langit itu, “sebaik-baik orang yang telah datang.”

Terbukalah pintu langit lebar-lebar. Keduanya lantas naik ke atas langit. Di sanalah lelaki kinasih itu bertemu dengan para pendahulunya. Adam as., Idris as., Musa as., Isa as., dan kakek buyutnya yang hanif. Ibrahim as. Setiap kali menjumpai sesuatu ia bertanya, “Siapakah ini, wahai Jibril?” Dan teman seperjalanannya itu pun tak lelah menjawab setiap pertanyaannya.

Setelah melewati langit ke tujuh, setelah bersalam kepada Ibrahim, kakek buyutnya, maka diperlihatkanlah kepada lelaki kinasih itu sebuah pohon yang buahnya seperti labu negeri Hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Jibril berkata, “Inilah Sidratul Muntaha.”

Di sana dijumpainya empat buah sungai. Dua sungai di dalam. Dua di luar. Jibril berkata, “Dua sungai yang mengalir di dalam itu dua sungai di surga. Dan dua sungai yang mengalir di luar itu adalah Sungai Nil dan Furrat*.”

Setelah diperlihatkan kepadanya Baitul Makmur, kemudian didatangkan kepadanya sebuah bejana berisi arak, sebuah lagi berisi susu, dan sebuah lagi berisi madu. Lelaki itu mengambil bejana berisi susu. Jibril seketika berkata, “Inilah kesucian, engkau dan umatmu di atasnya.”

Kemudian lelaki itu naik ke ‘Arsy, di bawah duli Tuhan Semesta Alam. Di sanalah ia terima perintah shalat 50 kali tiap-tiap hari.

Ketika melalui Musa as., ia ditanya, “Apa yang diperintahkan kepadamu?”

Lelaki agung itu menjawab, “Aku diperintah lima puluh kali shalat tiap-tiap hari.”

“Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup mengerjakan lima puluh kali shalat tiap-tiap hari. Sungguh demi Allah, aku pernah mencoba manusia sebelum engkau dan aku pernah melatih Bani Israel dengan sesangat-sangat latihan,” kata Nabi Bani Israel itu. Ia lalu memberikan saran, “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, lalu mohonlah kepada-Nya keringanan untuk umatmu.”

Lelaki kinasih itu pun kembali kepada Tuhannya di ‘Arsy, memohon keringanan sebagaimana Nabi bangsa Israel itu katakan. Ia yang Pemurah memberi keringanan sepuluh. Lelaki itu pun kembali menemui Musa. Tetapi, Nabi penerima Taurat itu kembali berkata sebagaimana pertama ia sampaikan. Maka lelaki itu pun kembali menemui Tuhannya, memohon hal yang sama, dan Ia memberinya keringanan sepuluh. Lalu sepuluh. Kemudian sepuluh lagi. Dan kini lima.

“Apa yang diperintahkan kepadamu?” tanya Musa.

“Aku diperintahkan dengan lima kali shalat tiap-tiap hari,” jawab lelaki kinasih itu.

“Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup mengerjakan lima kali shalat tiap-tiap hari. Sungguh demi Allah, aku pernah mencoba manusia sebelum engkau dan aku pernah melatih Bani Israel dengan sesangat-sangat latihan,” kata Nabi Bani Israel itu sekali lagi. Ia lalu memberikan saran yang sama, “Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, lalu mohonlah kepada-Nya keringanan untuk umatmu!”

Namun kini, lelaki kinasih itu bergeming, “Aku telah memohon kepada Tuhan sehingga aku merasa malu. Aku ridha dan menyerah.”

***

Setelah Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang ditulis dengan apik oleh Habiburahman el-Shirazy yang lulusan Al-Azhar, Mesir dan bergenre fiksi islami, pada medio 2008 ini telah terbit “Ayat-Ayat” lain, yang tak kalah menariknya. Inilah buku yang juga menggebrak: Ayat-Ayat Semesta (AAS)**.

Buku science ini lahir dari tangan ilmuwan ulama bernama Agus Purwanto, D.Sc (Doctor of Science), seorang dosen fisika teori dari ITS Surabaya, lulusan Hiroshima University, Jepang. Ia merangkum tak kurang 800 ayat Al-Qur’an ternyata bersentuhan dengan dunia sains. Sesuatu yang telah lama diabaikan dan bahkan ditinggalkan umat Islam di seluruh permukaan bumi semenjak pilar kejayaan Islam runtuh puing demi puing. Padahal sains telah menjadi daya tarik tersendiri para ulama abad kejayaan Islam, baik di belahan Timur Tengah dengan pusatnya di Baghdad maupun di negeri Andalusia di belahan Eropa. Padahal ternyata sains menempati lebih dari seperlima bagian kitab suci mereka. Sesuatu yang telah melahirkan ilmuwan muslim pada jamannya seperti Al-Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al-Khawarizmi (matematika), Al-Kindi (filsafat), Al-Razi (kimia, kedokteran), Al-Bitruni (astronomi), Ibnu Haitsam (teknik optik), Ibnu Sina (kedokteran), Ibnu Rusyd (fisafat), Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan masih banyak yang lain.

Tak pelak, AAS meruyak ketaksadaran kita betapa Al-Qur’an telah terlalu lama kita abaikan. Betapa kita kalah terlalu banyak langkah dengan ilmuwan Barat dan Timur (Jepang, China, India, dll) masa kini yang meski bukan muslim pewaris Al-Qur’an, tetapi mereka bersemangat mengeksplorasi berbagai misteri sains hingga berhasil menguak banyak keluarbiasaan alam ciptaan-Nya ini sebagaimana perintah Al-Qur’an. Satu contoh saja, bangsa Jepang telah mengenal “bahasa ikan” sebagaimana Nabi Sulaiman as. hingga memancing nyaris menjadi hobi setiap orang Jepang. Kemajuan teknologi memancing mereka cukup menjadi bukti bahwa mereka lebih mengenal “bahasa ikan” ketimbang orang lain.

Banyak fenomena yang telah diberitakan oleh Al-Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu bisa dibuktikan pada masa sekarang ini. Mulai dari masalah yang kelihatannya sederhana semacam pergantian siang dan malam – sesuatu yang kita alami setiap hari, hingga peristiwa yang sulit dan rumit semacam kenyataan alam yang terus berkembang meluas, kenyataan bahwa Tuhan ternyata supersibuk mengurus penciptaan dan penghancuran level elektron setiap saat.

Dari 800 ayat itu pun lebih banyak yang belum terjelaskan dibandingkan yang bisa dijelaskan ilmuwan hingga hari ini. Masih banyak yang gelap. Artinya, masih sangat besar tantangan bagi umat Islam untuk mempelajarinya. Diperjalankannya Rasulullah Saw. misalnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Banyak persoalan yang bisa dibahas. Bagaimana perjalanan ke langit itu terjadi? Dengan ruh saja atau ruh dan jasad? Dimanakah Sidratul Muntaha? Atau pertanyaan Agus Purwanto, apakah Nabi masuk semacam kabin pesawat lalu duduk berhadapan dengan Jibril? Atau seperti naik kuda lalu berkejaran dengan Jibril – yang sangat memungkinkan masuk angin,

setidaknya kembali dalam keadaan awut-awutan? Mengapa dilakukan malam hari, bukan siang hari?

Ilmuwan itu lantas menghitung. Karena diiringi malaikat, maka dari Al-Qur’an diketahui bahwa malaikat naik kepada Tuhan sehari seperti 50.000 tahun (QS. Al-Ma’ârij: 3-4). Itu berarti, kecepatan malaikat 18.250.000 kali kecepatan kita. Jika kecepatan unta 25 km/jam, dan dalam sehari efektif 8 jam perjalanan, maka sehari bisa menempuh 200 km. Jika Nabi Isra’ Mi’raj dari jam 8 malam hingga kembali jam empat pagi, maka Nabi menempuh jarak ke langit 1.825.000.000 km dari bumi. Tetapi jarak itu baru melampaui planet Saturnus, tetapi belum sampai Uranus. Apalagi Neptunus. Dan jika Nabi bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka tubuh Nabi akan “meledak” sesuai dengan hukum relativitas khusus. Karena itu, kata Agus, hukum relativitas khusus tidak memadai untuk menjelaskan peristiwa itu.

Dari teori lain, bahwa semesta itu bagai ruang melengkung yang terus mengembang, didapatkan tiga model: tertutup (closed), datar (flat), dan terbuka (open universe). Kita hidup di dalam ruang-waktu empat dimensi, tiga dimensi ruang, dan satu dimensi waktu. Namun tiga model inipun tak cukup menjelaskan perjalanan Nabi itu. Meski bergerak dengan laju maksimum kecepatan cahaya, masih diperlukan ribuan tahun untuk kembali di bumi. Selain itu, perjalanan naiknya juga hanya akan menemui ruang kosong, galaksi, ruang kosong, galaksi dan seterusnya hingga kembali ke bumi lagi setelah milyaran tahun beredar. Tanpa pernah menemui Sidratul Muntaha!

Agus Purwanto sampai pada kesimpulan, bahwa Mi’raj hanya bisa dijelaskan sebagai perjalanan keluar dimensi ruang-waktu kita. Ruang dan waktu ekstra di luar model ketiga jagat raya itu, yang hukum ruang dan waktu yang kita kenal tidak akan bisa berlaku. Ujungnya adalah: bagaimana kita bersikap terhadap Isra’ Mi’raj Nabi sebagaimana sikap Abu Bakar. Iman, percaya, sebulat-bulatnya, bahwa Rasulullah telah diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha dan kembali ke bumi hanya dalam semalam. Bahkan percaya jikalau pun lebih dari itu.

Belum lagi jika pertanyaan itu dilanjutkan. Mengapa Rasulullah harus bertemu Musa as., yang meminta beliau hingga berulang kali menghadap kembali kepada Allah, untuk meminta keringanan terhadap perintah shalat. Dari 50 menjadi 40, 30, 20, 10, dan akhirnya tinggal 5. Mengapa tidak langsung 5 saja sehari semalam? Apa maksud perulangan ini? Apakah ini skenario Allah agar Muhammad, manusia yang paling dicintai-Nya itu, semata-mata bisa bertemu dengan-Nya berulang kali? Bukankah Ia Maha Tahu, sehingga sangat tahu bahwa 50 kali sehari semalam jelas-jelas tidak akan bisa dilakukan umat manusia? Tetapi mengapa Ia memerintahkan 50 kali sehari semalam? Ataukah ini berarti bahwa bilangan 5 pada akhirnya itu pada hakikatnya sama dengan 50?

Wallôhu a’lam.

Bagaimanapun, rahasia semesta ini hanya Dia yang tahu. Kalaupun kita menjelajahinya, tak lain semata pada akhirnya akan berucap ‘robbanâ mâ kholaqta hâdzâ bâthilâ, subhânaka.’ Sungguh segala yang dicipta-Nya tidak ada yang sia-sia.

Yang justru lebih penting, barangkali, adalah hikmah apa yang bisa dipetik di balik fenomena setiap peristiwa. Isra’ Mi’raj misalnya, barangkali bukan bagaimana perjalanan itu terjadi, tetapi apa yang bisa dipetik dari perjalanan itu, atau apa oleh-oleh Nabi dalam perjalanan itu, yang justru lebih penting untuk mendapatkan perhatian. Dan itulah: shalat. Lima waktu sehari semalam. Sarana muslim bertemu dengan Tuhannya. Dan akan ditanya pertama sebelum ditanya yang lain nanti di akhirat. Hingga karenanya, Rasulullah, yang secara langsung menerima perintah itu di “ruang waktu” di luar kosmos semesta dunia, menaruh perhatian sangat serius terhadap perintah ini. Bahkan dibawanya hingga detik-detik terakhir sebelum ajalnya tiba. Dipesankannya melalui bibirnya yang mulia, menembus batas jaman hingga sampai kepada umatnya di akhir dunia nanti.

***

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini! Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan lelaki kinasih itu mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.

Ushîkum bish-sholâti, wa mâ malakat aimânukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

Sekalian yang hadir di rumah sederhana itu menahan napas. Juga ‘Aisyah yang sedang memangku sang kinasih itu. Ingin rasanya memintanya untuk tinggal lebih lama lagi. Tetapi, kerinduannya kepada Sang Kholiq, yang pernah ditemuinya di Sidratul Muntaha dulu, kiranya tak bisa ditunda lagi. Dan pagi itu, di pangkuan istri tercintanya, sang kinasih itu pun pergi menemui kekasih sejatinya. Sang Rafiqul A’la.

Ummati… ummati…” ***

***

* Sungai Furrat=Eufrat di Baghdad

** Purwanto, Agus, D.Sc., Ayat-Ayat Semesta: Sisi-sisi Al-Qur’an yang Terlupakan, Penerbit Mizan, Bandung, Mei 2008

*** Salah satu versi (atau bahkan campur aduk) dari banyak versi wafatnya Nabi Muhammad Saw. Semoga kami dihindarkan dari menuliskan sejarah yang tidak benar.

Keterangan.<br>Gambar diambil dari URL: http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/image/9811/leonidbolide_vw.jpg, lewat blog Dongeng Geologi: http://rovicky.wordpress.com

(taken from Ust. Bahtiar HS’ weblog)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s