mudik, sunnatullah para musafir

Idul Fitri kemarin Allah sempatkan kami sekeluarga untuk mudik ke kampung halaman ibu di Anjatan-Indramayu, alhamdulillah. Satu agenda keluarga yang kembali baru dapat kami laksanakan setelah tahun sebelumnya kami hanya dapat berlebaran di Depok karena kondisi almarhum ayah yang saat itu tak memungkinkan untuk berpergian tersebab sakitnya.

Sebagian kalian mungkin tahu seperti apa itu Anjatan, sebuah kecamatan kecil di kabupaten Indramayu. Di peta pulau Jawa, Indramayu berada di daerah bagian utara Jawa barat, sudah dekat daerah pantai. Saya tak pandai mendeskripsikan letak dan posisinya dari kota atau kabupaten lainnya–kecerdasan spasial saya tak terlalu bagus-yang jelas, Anjatan berjarak 161 km dari Depok, yang menurut Navigation, jarak tersebut dapat ditempuh dalam 2 jam 32 menit lewat jalan tol (kenyataannya, saat mudik kemarin jarak itu kami tempuh selama 7 jam–itupun sudah sangat beruntung karena jika naik bus, bisa 24 jam perjalanan).

Beberapa teman menyangka kalau saya dan keluarga mudik ke Gorontalo setiap lebaran (ya, almarhum ayah kami asli Gorontalo, dulunya masih bagian dari provinsi Sulawesi Utara), tetapi to be honest, kami sekeluarga (bertujuh, kecuali ayah yang memang asli sana, tentu) belum pernah menginjakkan kaki di kota kelahiran ayah kami itu, apalagi berlebaran di sana. Kunjungan kami di hampir setiap lebaran adalah Anjatan ini, yang tak lain adalah kota (kecamatan) kelahiran ibu, yang anggota keluarga besar ibu banyak sekali yang tingga di sana, hampir setiap tetangga adalah juga saudara. Selain memang di Gorontalo hanya tinggal adik-adik almarhum ayah yang tinggal di sana, sedangkan Opa telah wafat sejak saya masih amat kecil, dan Oma tinggal di Bogor bersama adiknya papa–kunjungan kedua kami tiap lebaran ketika Oma masih ada.

Karena sejak lahir saya dan kakak serta adik-adik tinggal di Jakarta, maka sejujurnya kami tak punya rasa–apa itu yang disebut nasionalisme kedaerahan, selain juga faktor tipikal cuek anak kota yang melekat pada sebagian besar penghuni kota metropolis ini (padahal kami mendiami bagian pinggirannya). Ya, saya pun tak punya rasa nasionalisme kedaerahan itu pada awalnya, hingga suatu ketika Allah sadarkan, dan kemudian saya jadi cukup terfahamkan kenapa silaturrahim (especially mudik) itu penting, terutama di setiap lebaran. Simpelnya, saya mendadak jadi anak ibu yang paling semangat kalau ada wacana mudik atau silaturrahim ke keluarga besar. Termasuk mudik di lebaran tahun ini, Idul Fitri 1433 Hijriyah.

Inti dari postingan panjang ini sebenarnya adalah :D, saya ingin menumbuhsuburkan rasa nasionalisme kedaerahan di internal keluarga sendiri, namun dengan tambahan perenungan ‘mudik’ ke pangkuan Allah. Yang namanya berada dalam perantauan (safar), itu pasti merindukan pulang ke kampung halaman. Sejauh apapun kita pergi. Pun kita, sebagai manusia yang hanya merantau sementara di bumi ini, seharusnya punya rasa rindu mudik sebagai fitrahnya para musafir, sejauh apapun kita mengembara di muka bumi. Tak lain yaitu rindu mudik tuk kembali ke kampung akhirat, ke sisi Allah Sang Pencipta kita. Dengan membawa serta rindu mudik ke kampung akhirat dalam hari-hari perantauan kita, semoga selalu menguatkan kita tuk mempersiapkan bekal oleh-oleh terbaik untuk dibawa pulang ke sana, semata agar Dia yang menanti kita di kampung akhirat memberi senyum rindu sekaligus senyum ridhaNya ketika kita ‘pulang’ nanti.

Taqabbal minna, Rabbana..

Rabu, 2208xii
14:45

Advertisements

2 thoughts on “mudik, sunnatullah para musafir

  1. Semoga benar…

    “Dia yang menanti kita di kampung akhirat memberi senyum rindu sekaligus senyum ridhaNya ketika kita ‘pulang’ nanti”…

    Allahumma aamiin.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s