Hukma Shabiyya

oleh Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Berhentilah sejenak. Tengoklah, apa yang terjadi pada anak-anak kita sekarang. Gizi semakin baik, tetapi kematangan mereka agaknya tak lebih baik dibanding beberapa generasi sebelumnya. Terlebih jika kita bercermin pada generasi awal kaum muslimin. Lihatlah, betapa beliau usia Imam Syafi’i rahimahullah ketika ia diberi kepercayaan oleh gurunya, Imam Malik rahimahullah. Imam Syafi’i telah hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun bukan karena masuk lembaga tahfidz , tetapi karena kecintaannya yang sangat besar kepada kitabullah mendorong ia untuk bersungguh-sungguh membaca dan mengingatnya. Ada kecintaan dan ada seorang ibu yang setiap saat mengakrabkannya dengan Al-Qur’an. Dari Ma’aali at-Ta’sis fi Manaqib Ibnu Idris sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Idris –maksudnya Imam Syafi’i- hafal Al-Qur’an usia 7 tahun dan hafal Al- Muwaththa ’ karya Imam Malik pada usia 9 tahun. Di usia 10 tahun, Imam Syafi’i telah menguasai tafsir Al-Qur’an –sesuatu yang amat langka untuk zaman kita ini, bahkan untuk orang dewasa. Kemampuan menghafal dan memahami kitab ini selain berkait dengan kecerdasan, juga terutama berhubungan dengan telah tumbuh kuatnya kecintaan pada agama serta keyakinan kepada kitabullah sehingga ia memiliki hikmah semenjak usia kanak-kanak. Imam Syafi’i rahimahullah bukanlah
satu-satunya. Jika kita menelusuri sejarah peradaban Islam, kita akan temukan betapa banyak tokoh yang menggetarkan dunia dan mereka telah menampakkan kecintaan amat besar kepada agama ini. Mereka sangat dekat hidupnya dengan Al- Qur’an, mencintainya dan meyakini isinya sehingga dengan itu mereka bersungguh-sungguh menghafalkan seraya memahami maknanya. Mereka
sangat bergairah terhadap Al-Qur’an – sesuatu yang tampaknya makin menjauh dari kita dan anak-anak kita. Mari kita ingat sejenak nasehat Jundub Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu . Sahabat Nabi saw. ini mengomentari generasi tabi’in yang mendahulukan belajar Al-Qur’an dengan berkata, “Kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian belajar Al- Qur`an sehingga dengannya
bertambahlah iman kami.” Jika generasi tabi’in yang mempelajari Al-Qur’an sebelum matang mempelajari iman saja dinasehati seperti itu oleh Jundub ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu , maka
apakah yang akan dikatakannya tentang anak-anak kita? Padahal tabi’in adalah sebaik-baik generasi sesudah generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sementara hari ini, di sekolah-sekolah
Islam maupun di rumah-rumah
kita,anak-anak bahkan belum belajar
keduanya (iman dan Al-Qur’an) ketika
mereka belajar gerak dan
lagu. Subhanallah …. Maha Suci Allah
Ta’ala. Betapa jauh bedanya…. Maka,
apakah yang dapat kita harapkan dari
anak-anak kita? Orangtua semacam
apakah kita ini?
Astaghfirullah …. Semoga Allah Ta’ala
ampuni kita. Semoga pula Allah Ta’ala
karuniakan kemampuan dan
kesediaan untuk memperbaiki
kesalahan kita sebagai orangtua.
Semoga pula Allah Ta’ala baguskan
anak-anak kita, betapa pun kita masih
amat jauh dari layak dalam mendidik.
Berbincang tentang hukma-shabiyya ,
teringatlah saya pada Al-Qur’an surat
Maryam. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat)
itu dengan sungguh-sungguh. Dan
Kami berikan kepadanya hikmah
selagi ia masih kanak-kanak (hukma
shabiyya) , dan rasa belas kasihan
yang mendalam dari sisi Kami dan
kesucian (dari dosa). Dan ia adalah
seorang yang bertakwa, dan banyak
berbakti kepada kedua orang tuanya,
dan bukanlah ia orang yang sombong
lagi durhaka.” (QS. Maryam, 19:
12-14).
Inilah ayat-ayat yang bertutur tentang
Nabi Yahya ‘alaihissalaam , putera
Nabi Zakariya ‘alaihissalaam yang
Allah Ta’ala karuniakan tatkala usianya
telah senja dan uban memenuhi
kepala. Allah Ta’ala beri keturunan
yang berlimpah kesejahteraan sejak
hari dilahirkan hingga kelak saat
dibangkitkan di Yaumil-Qiyamah. Allah
Ta’ala sendiri yang menamai Yahya.
Banyak pelajaran yang patut kita
renungi dari ayat-ayat
ini. Pertama, betapa Allah Ta’ala
senantiasa mendengarkan do’a kita.
Dan Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk
mengabulkan do’a kita meski rasanya
sudah tak mungkin lagi punya
keturunan. Kedua, kesungguhan
dalam memohon kepada Allah Ta’ala
dengan sepenuh pengharapan dapat
menjadi sebab Allah Ta’ala karuniakan
kebaikan pada anak kita.
Ada pelajaran lain yang perlu kita
renungkan. Keutamaan, kemuliaan
dan kekhususan Nabi
Yahya‘alaihissalam sungguh semata-
mata dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maha
Kuasa Allah Ta’ala untuk memberikan
keistimewaan dan kemuliaan kepada
hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-
Nya. Berkait dengan tugas kita sebagai
orangtua, bagian kita adalah
mengambil pelajaran tentang apa
yang menjadikan Nabi
Yahya ‘alaihissalam memiliki
keistimewaan hukma shabiyya , yakni
hikmah selagi ia masih kanak-kanak.
Semoga Allah Ta’ala limpahi kita ‘ilmu
dan menolong kita untuk mendidik
anak-anak kita agar dapat menjadi
hamba-Nya yang bersyukur dan
meninggikan kalimat Allah Ta’ala di
muka bumi.
Di antara hal-hal yang patut kita catat
untuk kemudian kita usahakan pada
anak kita adalah: menumbuhkan
kecintaan dan keyakinannya kepada
kitabullah. Jika mereka yakin dengan
Al-Qur’an, maka mereka akan
menerima sepenuhnya apa yang
difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Mereka menyambutnya tanpa
keraguan dan membacanya dengan
penuh kecintaan. Dan lihatlah betapa
tidak ada yang lebih mudah kita ingat
melebihi apa yang kita cintai. Kita
mudah mengingati apa yang sangat
berharga –betul-betul kita rasa
berharga—buat diri kita. Semakin
besar kecintaan kita kepadanya,
semakin besar perhatian kita
kepadanya dan semakin lekat ingatan
kita terhadapnya. Yang demikian ini
serupa dengan perkara yang sulit kita
lupakan. Sekilas mirip, tetapi
sebenarnya keduanya sangat
berbeda, perkara yang paling sulit kita
lupakan adalah yang paling
membekaskan luka atau keperihan
dalam diri kita.
Pertanyaannya, apakah yang sudah
kita lakukan untuk menumbuhkan
kecintaan dan keyakinan kepada
kitabullah dalam diri anak-anak
kita? Astaghfirullah … sekali lagi kita
memohon ampun kepada Allah Ta’ala
atas kelalaian kita menanamkan bekal
berharga ini dalam diri anak kita.
Semoga kita dapat memperbaikinya.
Semoga pula kita tidak lalai
menanamkan kepada anak-anak kita
berikutnya yang saat ini masih baru
lahir. Maka, bersyukurlah jika Allah
Ta’ala berikan karunia lebih dari dua
anak.
Jika kecintaan dan keyakinan kepada
kitabullah telah tertanam dalam diri
mereka, berikutnya yang perlu kita
perhatikan selaku orangtua dan guru
PAUD adalah menumbuhkan hasrat
kuat untuk berpegang pada kitabullah
dengan penuh kesungguhan.
Pertanyaannya, seberapa dekat kita
dengan Al-Qur’an? Adakah kita
mengambil petunjuk darinya? Jika
tidak, lalu adakah kepatutan dalam
diri kita untuk menumbuhkan tekad
menjadikan Al-Qur’an sebagai
pegangan hidup anak-anak kita.
MasyaAllah…. betapa besar tugas kita
sebagai orangtua. Dan betapa sedikit
bekal yang kita miliki.
Jika ini kita lakukan, diiringi do’a kita
yang amat tulus –terutama do’a ibu
yang melahirkannya—kita berharap
anak-anak itu akan memiliki hikmah di
saat usianya masih kanak-kanak atau
belia. Barangkali amat jauh dibanding
generasi terbaik Islam, tetapi kita
sungguh berharap anak-anak itu
setidaknya telah memiliki arah hidup
yang jauh lebih terarah dibanding
anak-anak seusianya di negeri ini.
Ada fakta sederhana yang perlu kita
renungkan. Para ahli psikologi
perkembangan meyakini bahwa
remaja merupakan masa
keguncangan, masa krisis identitas
yang penuh badai (storm & stress).
Mereka meyakini ini sebagai hukum
perkembangan yang pasti terjadi pada
siapa pun. Tetapi kita dapati bahwa di
berbagai belahan bumi, khususnya di
Timur Tengah, para remaja tidak
mengalami apa yang dulu para ahli
psikologi perkembangan
menganggapnya sebagai kepastian.
Sejumlah remaja justru baru
mengalami keguncangan ini ketika
mereka tak lagi dibesarkan dengan
pendidikan yang memberi arah bagi
hidup mereka. Inilah yang dapat catat
dari buku 50 Mitos Keliru dalam
Psikologi karya Scott O. Lilienfeld,
Steven Jay Lynn, John Ruscio, Barry L.
Beyerstein. Pun
buku Adolescence karya John W.
Santrock, meski hanya sekilas.
Apalagi yang harus kita bekalkan
kepada anak-anak kita? Takwa kepada
Allah Ta’ala dan berbuat kebajikan
kepada kedua orangtua (birrul
walidain) . Kita tumbuhkan dorongan
dalam diri mereka dengan sepenuh
kesungguhan.
Sesudahnya, kita didik mereka agar
menjadi orang yang rendah hati, tidak
sombong dan tidak berlaku aniaya.
Kita siapkan mereka agar tak
merendahkan siapa pun, tidak pula
mencela apa yang mereka tidak kuasa
menentukannya, yakni terkait apa
yang ditakdirkan Allah Ta’ala bagi
mereka. Tak ada kelebihan orang yang
berkulit putih dibanding yang berkulit
hitam pekat. Tidak pula yang
mancung lebih utama dibanding yang
hidungnya rata. Hak mereka hanyalah
tidak menyukai perbuatan buruk yang
dilakukan manusia seraya
menunjukkan kepada anak kita hak
saudaranya seiman, yakni diingatkan
dalam kebenaran, kesabaran dan
kasih-sayang.
Wallahu a’lam bish-shawab .
Semoga kelak kita dapat
mempertanggung-jawabkan tugas kita
sebagai orangtua. Semoga kelak anak-
anak kita menjadi penyejuk mata di
akhirat. Bukan sebab terjerembabnya
kita ke dalam api neraka.

Maafkan saya. Ingatkan saya. Nasehati
saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s