jiwa-jiwa yang reaktif

Saya mencoba mencerna baik-baik, berpikir keras, mengapa hal yang menurut saya seremeh itu; having a conversation, ngalor ngidul, geting inspired from it dengan seorang sister, itu bisa sangat membekas dan menjadi sedemikian berarti baginya. Ya. Beliau sang sensei menceritakan tentang itu dalam note-nya, dan di akhir tulisannya ia menuliskan kurang lebih, “di atas sajadah setelah shalat, air matanya menggenang, lirih berdoa, “i hope i can be a good brother for you.”

Saya juga mencoba mencermati mengapa sedemikian terharunya beliau, mengapa sebegitu mendalam penghayatan beliau terhadap film ‘A Walk to Remember’ sampai-sampai beliau selalu menangis saat menonton film itu.

Satu yang saya tangkap adalah, bahwa Allah mengaruniakannya hati yang begitu lembut. Sungguh lembut. Beliau adalah orang yang mudah ter-jleb oleh sesuatu (quote, lirik lagu, dst), kemudian itu menjadi amat berdampak pada dirinya sehingga dirinya kembali bangkit memperbaiki diri. Beliau akan bersikeras melaksanakan apa yang baru saja menyadarkannya itu. Beliau adalah orang yang hatinya begitu sensitif, hal-hal ringan dapat memperbaiki mood-nya dan mengubahnya menjadi sosok yang optimis dan penggembira. Singkatnya, beliau orang yang peka terhadap kebaikan dan bersegera menyambutnya…

Now here we go, the second story of the second person.

Tidak ada satu narasi dari setumpukan notes-nya yang gamblang menceritakan kenapa orang ini pada akhirnya terhidayahi. Ya, saya hanya mengetahui penggal-penggal ceritanya saja; dia seorang yang tengah menuntut ilmu di eropa sana, yang kemudian pernah karena suatu hal jatuh sakit, masuk rumah sakit, lalu di sanalah ia mendapati hampir semua tanya-tanya agnostiknya menemukan jawabnya, barulah ia mulai mengenali jalan lurusnya dan mulai mengenali betul-betul akan Tuhannya.

Apa yang terjadi setelahnya?
Ia menjadi salah satu ledakan di semesta ini, saat ini. Sebab geraknya begitu nyata, begitu berapi, ia seakan menjadi gasing yang begitu gesit berputar, menebar kebaikan dan cinta ke segala penjuru, membuat terobosan-terobosan yang mungkin tak sanggup remaja-remaja lain seusia kami melakukannya; menyapa tiap-tiap jiwa, mengajak memperpanjang usia, masif menebar ilmu; mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Ya, ia juga menjadi orang yang amat peka terhadap tanda-tanda kebenaran, kemudian menjadi amat reaktif merespon tanda kebaikan itu. Ia bergerak, dan ia benar-benar seorang pekerja keras dan tak kalah oleh dirinya sendiri. Ia membuktikan dirinya sendiri bahwa ia ada. Ia eksis di kancah jalan da’wah ini.

Baik, saya rasa saya telah menangkap benang merah dua orang yang benar-benar menginspirasi saya ini.
Matur nuwun & hatur nuhun, brothers fillah. Semoga karakter itu juga dapat melekat pada keseharianku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s