Surat untuk Rumah Lebah

Mengingat rumah lebah, amat mengingatkanku pada fragmen kisah seorang shahabat bernama Hanzhalah ibn Ar-Rabi’, yang suatu ketika mengaku dengan begitu jujur pada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa ia merasa dirinya begitu munafik, dan perasaan ini juga ternyata dirasakan oleh Abu Bakar dan beberapa shahabat lainnya; ketika sedang membersamai Rasulullah, ia begitu dapat merasai indahnya taqwa, keindahan surga, ancaman neraka yang nyata. Namun ketika Rasulullah sedang tak ada di sisi, taqwa itu seolah lenyap begitu saja…

Dearest sahabat-sahabatku, sahabat Al Qur’an, betapa saat ini aku merasa keadaanku sama seperti shahabat Rasulullah itu. Betapa aku begitu bersemangat tilawah, muraja’ah, menambah hafalan, ketika sedang berada di rumah lebah, membersamai kalian. Namun betapa lesunya aku sekeluarnya aku dari sana, ketika kembali terpisah jarak dengan kalian.

Sering terucap di hadapan musyrifah setiap sesekali, setelah keluar, aku masih berusaha menyetor hafalan, “jadi pengen tinggal di sini lagi…”, karena betapa aku ingin kembali hidup dalam atmosfer itu; atmosfer jiddiyah, atmosfer kesungguhan dan kegigihan yang mengalahkan apapun. Teringat kekata seorang ustadz, “dan lihatlah, betapa tak ada yang lebih mudah kita ingat selain apa yang kita cintai…”. Maka kalian adalah potret itu; potret realisasi cinta, potret ikhtiyar untuk sebuah pembuktian cinta kepada sebaik-baik kalam. Karena kalian cinta, maka kalian berusaha keras untuk mengingatnya. Karena kalian cinta, maka kalian kalahkan segala sesuatu yang bisa menghalangi dekatnya kalian dengan kalamullah.

Sungguh di rumah lebah, aku menyaksikan; kalian bangun di sepertiga malam yang akhir, sempoyongan berjalan mengantri ke belakang untuk bersiap qiyamul lail. Kalian mengantuk karena kalian tidur larut; untuk tugas kuliah, untuk kerjaan organisasi, untuk tilawah-menghafal-muraja’ah, tetapi kalian tetap bangun juga. Kalian tetap ikut berjama’ah tahajjud juga, larut dalam bacaan panjang musyrifah atau imam giliran. Kemudian shubuh menjelang. Kalian mengantuk, tapi kalian bergegas juga. Untuk kembali wudhu, bersemangat mengawali hari baru dengan shalat shubuh yang baik. Kemudian waktu tilawah jama’ah 1 juz dimulai. Kalian mengantuk, tapi kalian tetap ikut tiljam juga. Sungguh aku mempersaksikan wajah kantuk yang ditahan, kepala yang terangguk-angguk bahkan tak jarang Al Qur’an kalian lepas dari genggaman karena kantuk, suara tilawah yang makin tak terdengar juga karena ternyata mata sudah setengah tertutup… sungguh aku menyaksikan itu semua di rumah lebah. Tetapi aku tak menganggap itu sebuah kelemahan, sahabat, kalian tak perlu malu untuk itu. Aku justru bangga, aku justru iri, karena inilah sekali lagi, potret pembuktian cinta. Ya, karena memang cinta harus diupayakan.

Tidakkah kalian ingat, sampai mimpi dan mengigau kalian pun adalah melantun Al Qur’an, pertanda betapa kalian sesering mungkin berusaha selalu membacanya sepanjang waktu, seiring nafas kalian?

Maka wahai sahabat, sebagaimana kemudian  Rasulullah tersenyum menjawab pengakuan Hanzhalah, “…akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzhalah! Sesaat demi sesaat!” dalam pembuktian cinta, kupinta agar kalian juga mewasiatkan hal demikian kepadaku, meneguhkanku, menguatkan kesabaranku, memperkokoh ikhtiar pembuktian cintaku, sebagaimana adanya kalian saat ini. Sertakanlah juga aku dalam doa kalian, agar kelak aku segera dapat bergabung menjadi bagian dari keluarga Allah di muka bumi.

Teringat lagi, kali ini kekata Imam Syafi’i, “aku mencintai orang orang shalih, meski aku bukanlah bagian dari mereka. Dan aku membenci para pemaksiatNya, meski aku tak berbeda dengan mereka”. My dearest sahabat, aku mencintai kalian meski aku masih amat jauh dari sifat penghafal Qur’an seperti kalian.

“Allah mempertemukan kita di dunia karena Al Qur’an, dan semoga karena Al Qur’an pula Allah pertemukan kita kembali di surgaNya.”

(eza)

image
rumah lebah kami: RQ kami

Allahummaj’alna min ahlil Qur’an, alladzina hum ahluka wa khashshatuka…

(teruntuk teman-teman Rumah Quran Daarut Tarbiyah, dan Ustadz Fadlyl. Rumah lebah, karena di RQ, suara Alquran ramai didengungkan sepanjang hari, bersahut-sahutan, seperti suara lebah.)

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Rumah Lebah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s