Kangen

Suamiku,
Telah kutulis puisi-puisi itu sejak usiamu 26 tahun
Ketika pertama kali kita bertukar senyum
Pada jarak pandang yang begitu dekat

Kau ingat
Saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari, bulan atau bintang lagi
Cukup kau, cahaya yang Dia kirim untukku
Ah, apakah kau masih menyimpan puisi-puisi itu?

Dua belas tahun kemudian
Aku masih menikmati mengirimi puisi
Hingga hari ini
Aku pun menjelma hujan yang enggan berhenti
di berandamu bersama angin yang selalu kasmaran

kau tahu, aku masih saja menatapmu
dengan mataku yang dulu
lelaki sederhana berhati samudera
yang selalu membawaku berlabuh pada-Nya

pada berkali masa, kau pernah berkata:
“aku tahu, aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu”

(Helvy Tiana Rosa)

***

Bunda Helvy memberi jiwa pada setiap bait puisinya, sehingga setiap syairnya begitu menyentuh.

Dan Valina telah menerjemahkannya ke dalam alunan nada dengan begitu indah, membuatnya lebih dalam tuk dijiwai.

Sulit dikatakan, tapi syair–dan lagu ini-telah me-renew perasaan saya pada suami saya. Seolah pernikahan kami baru kemarin sore . . .

(kuhadiahkan puisi ini tuk suamiku, di usia pernikahan kami yang tepat menginjak 15 bulan. Ah, betapa kuingin juga bersetia, mengirimimu puisi hati setiap hari; kepada lelaki sederhana berhati samudera…)

Simply brought me to tears.

https://www.youtube.com/watch?v=L07Qhl5pR5Q&feature=youtube_gdata_player

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s