Bersaudara Hingga di Surga

oleh Eliza Fardina, Deputi Dept. Islamic Center Salam UI i5

Tersebutlah dua orang yang bersahabat amat dekat di masa jahiliyah, sepasang karib yang sama-sama memusuhi da’wah Rasulullah saw. Mereka adalah Ubay bin Khalaf dan Nadhar bin Harits. Suatu ketika Rasulullah saw. tengah membacakan ayat-ayat Allah di dekat Ka’bah, sedang Nadhar bin Harits yang sedang berada di sekitarnya menunjukkan sedikit keterpesonaannya pada apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Seketika itu juga memerah marah wajah Ubay bin Khalaf, kemudian langsung menegurnya, “Aku lihat engkau sudah cenderung mengakui agama Muhammad. Demi Allah, jika engkau memang saudaraku, tuangkan isi perut unta ini ke kepala Muhammad ketika ia sedang sujud!”. Karena loyalitasnya, Nadhar bin Harits melakukan apa yang diperintahkan sahabat karibnya itu.

Fragmen kisah di atas merupakan salah satu dari sekian banyak kisah tentang loyalitas persaudaraan. Mari perhatikan betapa Nadhar bin Harits berusaha menunjukkan kesetiannya pada sahabat dekatnya dengan langsung melaksanakan apa yang diperintahnya. Ia diancam tak akan lagi dianggap saudara, maka Nadhar bersegera memenuhinya. Meski mungkin sebenarnya, hatinya mulai tersentuh cahaya kebenaran dari ayat-ayat yang dibacakan Rasulullah saw. Namun Ubay bin Khalaf berhasil memalingkan hati sahabatnya dari kebenaran, hingga tetaplah keduanya dalam persaudaraan berlandas kebencian terhadap Nabi Muhammad saw. beserta ajaran yang dibawanya.

Padahal andai mereka tahu, bahwa “hanya orang-orang mukminlah yang (bisa) bersaudara…” (Al Hujurat [49]: 10). Imam Ibnu Katsir mengarahkan tafsir ayat ini kepada sebuah ayat lain dalam Al Qur’an, “teman-teman karib pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az Zukhruf [43]: 67). Karena persaudaraan yang dimaksud oleh Allah dalam Al Hujurat ayat 10 adalah persaudaraan kekal yang abadi sampai akhirat; kekal sampai di surga. Bahwa orang-orang yang saling mencintai, bersaudara, namun persaudaraan itu justru membuat mereka jauh dari Allah, maka di akhirat nanti mereka akan saling menuntut menyalahkan. Kesetiaan seseorang pada sahabat dekatnya, seperti loyalitas kekufuran Nadhar bin Harits pada Ubay bin Khalaf dalam fragmen di atas, takkan berguna bagi dirinya dan juga sahabatnya kelak di pengadilan hari akhir nanti. Karena persaudaraan seperti itu membuat mereka jauh dari Allah. Tak hanya itu, persaudaraan antara mereka berdua adalah persaudaraan yang bahkan membuat Allah murka. Ini adalah persaudaraan yang sejatinya memisahkan. Dan keduanya akan saling menuding di hari akhir, “wahai, celakalah aku! Sekiranya tak kuambil si fulan sebagai kekasihku (teman karibku)!” (Al Furqan [25]: 28)

Maka firman Allah yang telah begitu kita kenal, “innama-l mu-minuuna ikhwah…” (49: 10) memahamkan kita akan suatu kaidah, bahwa landasan utama dalam berukhuwah haruslah keimanan kepada Allah. Ukhuwah adalah rasa cinta yang kemudian dibangun karena Allah. Dan kaidah ini tak hanya berlaku untuk ukhuwah antara dua sahabat karib, melainkan pada semua hubungan antara dua insan; orangtua dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakak dengan adiknya, seorang teman dengan sahabatnya, murid dengan gurunya. Maka mari kita mulai berbenah, memastikan kembali bahwa hubungan kita dengan orang-orang di sekeliling adalah karena landasan cinta yang dibalut keimanan. Tak maukah kita, saat datang hari di mana orang-orang bermusuhan, kita justru kekal hidup berdampingan dalam surga bersama orang-orang yang kita sayangi? “Bagi dua orang yang saling mencintai karena Allah, di surga Allah bangunkan mimbar-mimbar dari cahaya, yang membuat iri para nabi, para shiddiqqin, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi) Wallahu a’lam bish shawab.
(7/11/2012)

disarikan dari ceramah ustadz Salim A. Fillah dalam Kajian Rutin Pagi Hari (KRPH), diterbitkan dalam Selembar Madani (buletin bulanan Salam UI), November 2012
*jadul*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s