Husein, the little star on earth (1)

Namanya Husein, saya mengenalnya pertama kali saat daycare kami buka sejak hari pertama; 6 Januari 2014. Ia berusia 3,5 tahun saat itu. Saya cukup surprise ketika di awal Husein tidak menangis saat ditinggal umminya berangkat mengajar; ia hanya mengangguk kecil saat umminya pamit, kemudian langsung masuk ke daycare dan mulai membongkar kontainer mainan. Oh, ternyata sebelum masuk daycare kami, Husein sudah diikutkan ke Balai Penitipan Anak di sekolah umminya sejak ia berusia 2 tahun, makanya ia sudah biasa ditinggal dan bermain sendiri.

Saat itu kami masih berdua sebagai pengasuh sekaligus pengelola daycare; bu Hani dan saya sendiri. Ketika hari pertama bu Hani mulai mengajarkan huruf hijaiyah, ternyata Husein sudah menguasai seluruh huruf hijaiyah, dari أ sampai ي, walau masih suka tertukar. Saat main tebak huruf, Husein cepat sekali menebak huruf2 yang ditulis bu Hani, walau sering salah dibanding temannya yg juga seusianya, Askar. Selain cepat (dan teriak bersemangat :D) saat tebak huruf, ia pandai bermain susun balok, secara umum motorik kasar dan halusnya sudah amat baik. Dan sifat Husein yang membuat kami terkagum adalah kedermawanannya. Jika ia punya makanan, maka ia akan membaginya ke semua anak daycare. Ah, betapa manisnya 🙂

Namun ada satu kekurangan pada diri Husein.

Ia belum mampu berkomunikasi dengan baik sebagaimana anak2 seusianya. Husein baru bisa mengucapkan maksimal 2 kata, itupun terkadang pengucapannya masih kurang jelas. Dan seringkali karena sulitnya kami memahami apa yang ia inginkan, Husein tantrum. Ia juga sulit untuk fokus dan konsentrasi. Di kemudian hari, baru kami ketahui, bahwa penyebab keterlambatan Husein adalah karena rendahnya IQ (Intelligence Quotient).
***

Malam ini saya merenungi dua film yang belakangan saya tonton; yang pertama adalah Miracle Worker, produksi tahun 2001. Film tersebut bercerita tentang kegigihan seorang guru masa kecil Hellen Keller yang buta, tuli, juga bisu. Betapa beliau, Mrs. Annie Sullivan, berjuang dengan segenap kemampuan untuk mengenalkan bahasa pada Hellen kecil; sesuatu yang ibu-bapak Hellen sendiri merasa sangat pesimis untuk dipahami seorang buta tuli bisu. Siapa sangka dulunya Mrs. Annie juga seorang yang (hampir) buta, namun berhasil survive dan berhasil menghadapi hidup. Dengan yakin bahwa Hellen bisa diajari, Mrs. Annie pantang menyerah mengajari Hellen bahasa isyarat melalui indera yang bisa Hellen pahami: indera peraba. Dan Mrs. Annie membuktikan itu. Ia menjadi pengajar Hellen sampai akhir hayatnya.

Film kedua adalah Taare Zameen Par. Nampaknya saya tak perlu bercerita banyak, karena ini termasuk salah satu film india yang booming di Indonesia. Tentang anak disleksia yang punya bakat luar biasa dalam bidang menggambar, namun diasramakan orangtuanya karena dianggap nakal, bodoh, dan sebagainya. Dan seorang guru baru, yang semasa kecilnya juga pernah disleksia, berhasil menemukan potensi terpendam Ishaan, membuktikan pada keluarga dan guru2nya bahwa Ishaan adalah anak yang cemerlang. Little Stars on Earth, itu arti dari judul film ini.
***
(to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s