dari tiada menjadi ada (2): the waves of love

Selasa, 24 desember 2013, pagi jam 6. Bunda mulai merasakan lagi kontraksi2. Namun kali itu lebih sakit, dan frekuensinya lebih sering, yaitu 5 menit sekali. Allah, inikah waktunya..?

Bunda dan ayah menyepakati, tanda bahwa bunda harus segera ke bidan adalah jika tanda2 mau melahirkan sudah muncul; saat itu bunda tetapkan untuk menunggu flek keluar sebagai tanda final. Subhanallah, kontraksi tak berhenti, terus menerus reda dan timbul kembali nak.. Tepat jam 10, bunda mengecek, dan ternyata saat itu benar keluar flek. Bismillah, bunda segera sampaikan ke ayah untuk mulai bersiap berangkat ke bidan. Ayahmu tampak mengokohkan tekad. Dengan sigap ayahmu berkemas mempersiapkan tas yg memang sudah siap dibawa. Kemudian kami berangkat ke bidan Marfiah, yang waktu tempuh menuju ke sana kurang dari 5 menit dengan motor. Laa hawla wa laa quwwata illa billah..

Sampai di sana bunda langsung periksa dalam oleh asisten bidan, katanya bunda sudah bukaan 3, cintaku.. MasyaAllah :’) bunda amat grogi, sedikit merasa khawatir-takut sayangku Ayuma, karena ini adalah pengalaman pertama bunda.. Tapi kemudian bunda langsung ingat untuk menyambutmu dengan bahagia, seperti yang ammah Ermi bilang.. MasyaAllah energi kebahagiaan itu begitu besar dan berpengaruh! Bunda benar2 menyikapi kontraksi demi kontraksi dengan bahagia dan kesabaran.. Ditambah mama bunda, adik2 bunda, juga bulek Ila serta anak2nya datang menjenguk menghibur, membawakan makanan, masyaAllah bunda jadi makin semangat.. Apalagi ayahmu yang selalu di sisi bunda, selalu melakukan pijat endorfin setiap bunda sedang kontraksi..

Malam mulai menjelang, mama dan bulek pamit pulang ke rumah dulu, karena tanda2 dirimu akan lahir belum muncul lagi, sayang. Bukaan belum maju lagi. Dari yang bunda baca, bukaan baru bisa maju satu bukaan tiap satu jam jika sudah bukaan 4. Di bawah itu, majunya bukaan bisa jadi cukup lama. Maka bunda berusaha tenang, dan terus menanti. Dengan berjalan bolak-balik di dalam ruangan inap. Dengan sesekali berlatih jongkok berdiri. Saat itu bunda merasa amat kesakitan sehingga baru jalan sebentar, bunda sudah menyerah ingin istirahat di atas kasur saja.

Ah ya, saat itu, menurut bunda, posisi terbaik untuk mengatasi nyeri kontraksi adalah dengan duduk bersila. Maka sampai hampir tengah malam pun, bunda ingin terus duduk bersila karena itu sungguh bisa mengatasi nyeri. Namun bidan menyuruh bunda untuk rileks istirahat dengan tidur di posisi yg benar, sayang.. Akhirnya bunda tidur dengan posisi duduk namun bersandar di dinding. Kalo pegal bersila, bunda selonjoran. Dan tahukah, bunda hanya bisa tidur 10 menit-10 menit. Setiap 10 menit rahim bunda kontraksi, yang membangunkan bunda, membuat bunda meringis2 menahan nyeri.. 😉 setelah nyeri reda, bunda jatuh tertidur lagi karena kelelahan. 10 menit kemudian kontraksi lagi, bangun lagi, begitu seterusnya. Tengah malam bidan beberapa kali mengecek denyutmu yang alhamdulillah masih normal. Dzikir tak lepas terlantun.. Sampai fajar menjelang, terus begitu, dan ayah selalu bangun ketika bunda bangun karena kontraksi. Ayah kembali memijat lembut pinggang bunda. Betapa pijatan ayah amat meredakan nyeri, nak..

“ayah, rasanya sakiit, sakit tapi senang, karena sebentar lagi dedeknya keluar.. Ketemu kita.. Laa hawla wa laa quwwata illa billah..”

Kontraksi yang kesekian ratus sejak kemarin pagi…

Di pagi hari, periksa dalam lagi, dan bunda terkejut; bukaan baru 3,5 katanya. Awalnya bunda mengira bukaan sudah banyak maju. Akhirnya pagi itu ayah mengajak bunda jalan kaki berkeliling di daerah klinik.
Namun tak kuat lama2, bunda meminta untuk istirahat kembali. Sejujurnya bunda amat ngaantuuk sayang.. Tapi ngantuk dalam keadaan seperti itu membuat bunda nampak sangat kelelahan. Setelah menunggu sampai jam10, periksa dalam lagi, dan bukaan belum maju juga, bidan merujuk bunda untuk ke rumah sakit..

Bingung, khawatir, dilemma. Bunda tak tau harus memutuskan apa. Bunda ikut apa yg ayahmu putuskan setelah diskusi singkat yg penuh pertimbangan dengan bulek Ila. Fix kita ke RS sayang.. RS Zahirah jagakarsa, tempat di mana dokter Eni praktek. Kembali dengan sigap ayah mengantar bunda, dengan mencari rute tersingkat, kita ke sana naik motor sayang :’). Dengan kesepakatan, jika bunda sedang kontraksi, kita menepi, menunggu sampai kontraksi reda, lalu jalan lagi. 2-3 kali berhenti karena kontraksi, kita sampai di RS. Alhamdulillah..
(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s