dari tiada menjadi ada (3): giving birth

Sampai di sana, ayah mengurus administrasi, sementara bunda yang semakin mengantuk dan lemas dibawa ke ruang persalinan. Dokter Eny sedang praktik di RS lain, sehingga sementara bunda ditangani bidan RS. Bidan bilang, kita harus melakukan rekam jantungmu, anakku. Sebanyak dua kali. Jika hasilnya bagus, inSyaAllah bunda bisa melahirkanmu secara normal. Jika tidak; operasi. Allah, mohon kuatkan.. Maka siang hari jam 12.00, rekam jantung pertama dilaksanakan. Tiap rekam jantung butuh waktu setengah jam untuk merekam tren kontraksi dan denyut jantungmu. Dan hasil rekam jantung pertama… Tidak bagus. Nampaknya kau mulai kelelahan, cintaku.. Bunda mulai kehilangan semangat, kehilangan rasa bahagia menyambutmu, nak, maafkan bunda yg sempat sedih.. Kondisi bunda langsung menurun, baik fisik, psikologis… Hingga bunda harus diberi oksigen tambahan.

Jam 2 siang, waktunya rekam jantung kedua. Bunda sudah lebih baik saat itu, setelah makan walau sedikit, dan oksigen itu yg amat membantu. Rekam jantung dimulai. Rabb, hamba pasrah.. Apapun yang terbaik dariMu.. Dan hasil kali ini.. MasyaAllah, alhamdulillah, Allahu akbar.. hasilnya baik. Tak ada masalah. Bidan RS saat itu menetapkan bunda bisa lahiran normal. Semangat bunda langsung muncul lagi sayang… Allah, terima kasih… Betapa kuasaMu, ah, bunda tak bisa berkata2.. Saat itu periksa dalam, bunda sudah bukaan 5 nak.. :””

Yang bisa bunda lakukan setelahnya adalah makin giat latihan jongkok berdiri. Bunda membayar apa yang selama ini bunda kurang latihan. Setiap kontraksi, bunda langsung ambil posisi berjongkok. Sampai bidan RS tanya, “emang ngga sakit bu?”. Tidak sayang, tekad bunda makin menguat kala harus jongkok saat kontraksi. Lagipula bunda sudah terlalu akrab dengan rasa nyeri kontraksi, sehingga bunda bisa mengatasinya biidznillah. Ayahmu tak henti melantun tilawah, bunda bermuraja’ah sambil menyimak bacaan ayah..

Maghrib. Bukaan 8. Semakin dekat waktunya.. Dokter Eny baru akan sampai di RS Zahirah sekitar jam 8 malam. Dan beliau meminta bidan RS untuk menginduksi bunda hanya agar bukaan maju lebih cepat. Bunda dan ayah setuju, infus induksi dipasang jam 7 lewat, setelah ayah kembali dari shalat ‘isya. Bismillah..

Jam 20.10. Bunda merasakan tanda dirimu akan keluar. Segera bunda melapor ke bidan RS. Periksa dalam; sudah bukaan lengkap. Tak lama setelahnya dokter Eny datang. Tanpa basa-basi, beliau langsung mengeksekusi bunda, dibantu bidan. Bismillah, inilah waktunya sayang, momen yang tak akan bunda lupakan seumur hidup bunda. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, bunda memulai. Bunda coba mengikuti semua instruksi dokter dan bidan dengan amat baik, dengan ayah yang berdiri dengan tenang di sisi ranjang bersalin, siap menemani bunda berjuang, menggenggam dan mengusap tangan, terus membisik menyemangati bunda..

Ketuban dipecahkan. Bunda diminta mulai mengejan. “bagus bu, terus seperti itu ya,” dokter Eny. Sambil prosesi melahirkan, alat pengukur denyut jantung bernama doppler itu terus digunakan untuk mengecek kestsbilan denyut jantungmu. Bunda diminta mengejan yang kuat. Beberapa kali, belum ada hasil, dan bunda sempat salah mengejan. Allah, ternyata mengejan sama sekali tidak mudah.. Denyutmu kembali dicek. “…denyut bayinya melemah bu.” Deg. “ini kalau harus operasi juga bayinya akan keluar duluan.” Deg. ya Allah ya Rabb, hamba tawakkal padaMu sepenuh-penuh..

Bidan sigap mengambil alat vakum atas perintah dokter Eny. Allah, bismillah, aku akan divakum. Tak apa ya Allah, hamba bahagia, hamba kuat, hamba bisa menjalaninya dgn mudah atas kuasaMu.. Dokter mulai episiotomi. Menakjubkan, hanya terdengar bunyi gunting tanpa terasa sakit sama sekali. Rasa sakit itu terkalahkan oleh kontraksi hebat. Setelah corong vakum terpasang dengan baik, bunda baru boleh mengejan, yang hampir2 tak kuat bunda tahan karena dirimu sudah sangat akan keluar. Sekali mengejan, tepat jam 21.00, dirimu langsung keluar dengan mudahnya…
***
It was exactly one year ago, dear Ayuma… :””
***
Dokter meletakkan dirimu yang mungil–dan yang tak langsung menangis- di pelukan bunda, nak.. Ya, dirimu yang sebelumnya 9 bulan berada di rahim bunda.. MasyaAllah.. Alhamdulillah.. Allahu akbar.. Kami semua menghembuskan nafas lega.. Ayah ingin turut memeluk bunda dan dirimu, bunda tahu itu.. Mengharu biru..

Bunda langsung mendekapmu. Meraba kulitmu yang masih licin karena air ketuban. “masyaAllah, alhamdulillah.. Maryuma.. Cantik sekali dirimu nak, masyaAllah, shalihah..”, bunda amat senang akhirnya telah bisa bertemu denganmu, wahai buah hati, yang selama ini dinanti.. Lalu kau mulai menangis.

Bidan kemudian mengambilmu, membersihkanmu di ruangan yang sama, memakaikanmu kain dan topi agar hangat, mengukur berat serta panjang badanmu. Ayah mengamati prosesi itu, dengan wajah yang masih terpana.. :’) sementara bunda mengamati dari jauh, sambil tersenyum bahagia, amat bahagia.. Sehingga proses jahit menjahit tidak begitu terasa, malah bunda acuhkan dan bunda larut mengamatimu diperlakukan dengan telaten oleh bidan..

Beratmu 3,5 kg nak, dengan panjang badan 49 cm. MasyaAllah betapa kagetnya bunda, karena saat memelukmu tadi bunda kira beratmu hanya berkisar di angka 2 koma. Ternyata dirimu besar sekali.. :D. Setelah dirimu ditimbang, bidan kembali menaruhmu di pelukan bunda, sayang, kali ini untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD).. yang sayangnya tidak berjalan mulus walau sudah dicoba selama 1 jam 😥 :D. Dirimu kemudian dibawa ke ruang bayi, sedang bunda dipersiapkan untuk segera pindah ke ruang rawat inap dengan kursi roda, didorong ayahmu..

image

***

Indah sungguh, perjuangan melahirkan itu. Jihad terbesar seorang wanita, yang jika ia harus kehilangan nyawa, Allah jamin dengan surga…

Ayah segera berkabar ke keluarga dan kerabat. Tak lama, ia jatuh tertidur di ranjang sebelah bunda yang kebetulan kosong. Bunda menatap ayahmu lekat2. Subhanallah.. Ayahmu pasti amat kelelahan.. Allah, betapa aku berterima kasih padanya, atas kesetiaanya, kebaikan2nya.. Ingin mengecup keningnya, tapi bunda tak bisa berpindah dari ranjang bunda.

Sampai larut malam, bunda tak bisa memejamkan mata karena over excited sayang! Oksitosin begitu melimpahi bunda saat itu.. Kemudian bunda merindukan Maryuma yang tadi baru sempat dipeluk sebentar.. Bunda akhirnya baru tertidur jam 2 dini hari..
***

Nak shalihahku, Ayuma..
Setahun sudah usiamu kini, dan mengenang peristiwa dahsyat setahun lalu membuat bunda begitu haru.. Masih bunda ingat setiap detilnya; betapa besar kuasa Allah atas ini semua..

Di hari lahirmu ini, bunda, ayah, dan semua orang yang menyayangimu mendoakan, semoga Allah selalu mencukupkan segala, untukmu sayangku, Maryuma Qaniyya Elzayn..

Grow up, dear.. We all love you, and really grateful to have you..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s