feeling lost

saya–kami, baruu saja mengenalnya kemarin. Benar-benar kemarin. Ia baru bergabung di daycare januari, lahir di jambi namun besar di lampung, amat ramah lagi lugu (perasa dan telaten), dan yang paling membekas di ingatan saya; semangatnya mengulang hafalan Alquran.

Keberadaannya begitu membekas di hati saya, entah mengapa. Semacam saya dibuat jatuh cinta oleh Allah dengan kepribadiannya yang sederhana. Sederhana, namun di balik itu ia telah menyimpan lebih dari 20 juz kalam Ilahi di memori hatinya. Sederhana, namun karena MHQ (Musabaqah Hifzhil Quran) yang berhasil dimenangkannya, ia mendapat kesempatan berangkat ‘umrah ke Al Haramain. Yang dengan ekspresinya yang jujur ia berkata, “sungguh rinduu sekali ingin ke sana lagi.. Tenteram banget..”

Ia selalu menyambut kedatangan saya ke daycare dengan lantunan sejuk tilawahnya, atau muraja’ahnya, sapaan hangatnya. Ah, rasanya ia mampu menge-charge semangat menghafal saya tanpa perlu berkata2. Ia menggenggam Alquran sesering mungkin yang ia bisa; entah saat menemani Laras bermain, bahkan saat menggendongnya jalan2. Sering saya melihatnya tampak mengantuk, namun ia kalahkan itu dengan genggaman eratnya pada mushaf kesayangannya. Kembali melantun. Sesekali istirahat saat Laras juga tengah tertidur.

***

Baru kemarin rasanya, saya mengajaknya jalan2 ke jembatan teksas UI dan cluster FIB. Walaupunn itu adalah perjalanan yang amat singkat, dekat, lagi paling murah di ongkos (maafkan dek, karena feasibility-nya baru ke sana..), namun ia sangat senang. Ia begitu menikmati keindahan pemandangan danau beserta scenery-nya yang menyejukkan mata. Ia berkali2 berterima kasih telah diajak ke sana, yang saya sambut dengan lagi2 minta maaf karena trip saat itu sangat sederhana sekali. Di perjalanan, ia mengutarakan impian2nya untuk bisa menuntut ilmu di jenjang perkuliahan. Ia bilang, ia ingin bisa bahasa arab dengan kuliah di LIPIA, namun ia juga penasaran dengan ilmu psikologi, keperawatan.. rasanya semua bidang ilmu ingin ia pelajari :’) saya membaca semangat yang begitu tinggi darinya. Dalam hati saya aminkan harapan2nya..

***

Baru kemarin. Namun dengan sangat tiba2, ia harus pulang ke jambi. Saat itu juga, pagi hari setelah mabit daycare 6 februari lalu. Ayahnya memintanya pulang, karena sudah lama sekali tak bertemu anak2nya yang kesemuanya merantau. Sedang ibunya? Telah wafat saat usia Rani baru 2 tahun. Allah.. Ia merasa amat merindukan kasih sayang orangtua, yang tak banyak ia kecap karena Allah menakdirkan jalan hidup terpisah dari orangtua sejak kecil..

“…tapi, balik lagi kan ammah..? Berapa hari..?” (terkejut, sangat. Berharap jawabannya adalah tiga hari, atau maksimal seminggu)

“..berhari-hari, ammah…”, jawabnya dengan senyum, yang saya yakin begitu berat mengeluarkan senyum di saat seperti itu.

Baru kemudian saya tahu, bahwa ia tak akan kembali dalam waktu singkat.. It might take; years..

***

Pagi setelah mabit saya sempatkan pulang ke rumah dulu sebelum kembali beraktivitas di daycare. Saya berniat membelikannya pisang sale di warung dekat rumah untuk ia bawa sebagai oleh2 pulang kampung. Namun urung; saya berpikir saya akan mengajaknya saja ke warung itu, jadi ia bisa memilih jenis snack lain yang juga enak untuk pulang.

Tetapi saya salah.

Sesampainya saya di daycare, ia sudah tak ada di sana. Obi bilang kalau ia berangkat pagi sekali, tak lama setelah saya pulang ke rumah. Mungkin mengejar bis pagi. Ibu manajer kami, Atif, sempat mencarikannya tiket pesawat untuknya, namun batal karena beberapa hal. Bahkan Atif pun tak sempat bertemu dengannya sebelum pulang.

Saat itu saya merasa teramat kehilangan. Sangat. Seperti ada yang hilang dari kehidupan saya. Kehidupan yang baru saja menyala kembali dengan semangat Alquran..

***

…hingga jumat malam kemarin, saya bermimpi ia telah kembali ke daycare. Dengan senyumnya yang tulus. Dan saya sangat senang mendapatinya telah kembali.

Namun itu hanya mimpi..

menurut saya, terkadang, jika kita memimpikan sesuatu atau seseorang, itu berarti sesuatu atau seseorang tersebut telah masuk ke alam bawah sadar kita. Meninggalkan bekas yang mendalam, sadar atau tidak kita sadari, entah itu pengalaman baik atau buruk..

Saya segera melepas kangen via sms, dengan mengabari mimpi saya. Jawabnya, “semoga mimpinya menjadi kenyataan, ammah..” :’)

Sungguh berharap demikian, dik.
Moga Allah kabulkan harapanku..
Terima kasih, dik Khairani, telah membawa pertemanan yang begitu singkat, namun begitu membekas.. Semoga Allah menjagamu selalu, sebagaimana dirimu yang selalu berusaha menjaga Allah dalam hatimu.. Dan sebentar lagi kau akan menuntaskan hafalanmu, dan bergabung dalam barisan keluarga Allah itu.. Mohon ajak aku turut serta..

***

(menulis ini dengan mata berkaca2. The purpose i wrote this is to document all of our short times that we spend together. Agar aku selalu mengingatmu, kawan, dan mensyukurimu sebagai penyemangat tahfizhku..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s