Melantun Bersama Semesta

Srek-srek-srek. Nadin tampak sibuk membolak-balik halaman Quran dalam genggamannya. Apa yang sedang ia lakukan?

Di pangkuannya terdapat buku catatan kecil. Ia menulis nomor-nomor, beberapa baris kata, kemudian menggambar kotak kecil di pinggir kanan dari tiap nomor tersebut. Oh, rupanya ia sedang membuat suatu daftar ceklis. Pandangannya tertuju pada Quran, lalu beralih pada buku catatan (sambil menulis-nulis angka), lalu beralih pada Quran lagi. Dahinya berkerut, wajahnya kelihatan amat serius mengkalkulasi sesuatu.

Sore itu, di teras mushalla kampus yang sudah mulai sepi, seorang mahasiswi baru bernama Nadin tengah merencanakan suatu hal besar dalam hidupnya: menghafal 1 juz Alquran selama 1 bulan liburan semester ganjil, kemudian melantik dirinya sendiri, yang kelak telah–setidaknya–memiliki hafalan 3 juz Alquran, di puncak gunung Halimun. Bertepatan dengan momen pelantikan organisasi yang memang rutin dilakukan di sana setiap awal tahunnya.

Target hafalan kali ini adalah juz 28. 1 juz terdiri atas 20 halaman, sedang 1 bulan terdiri atas 30 hari. Aku harus bisa menghafal 1 halaman dalam 1 hari, batinnya, jadi proses menghafal seharusnya bisa selesai dalam 20 hari, kemudian sisa 10 harinya adalah untuk muraja’ah (mengulang-ulang hafalan). Nadin menentukan mana surat yang harus ia hafal terlebih dahulu berdasarkan banyaknya halaman pada setiap surat, maka ia menghitung-hitung, kemudian mengurutkan dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak. Ia memastikan kalkulasinya tepat dan tidak ada yang terlewat.

Ada 2 surat dalam juz 29 yang belum ia hafal, maka ia pun menargetkan 2 surat ini harus tuntas sebelum masuk liburan nanti. Liburan cukup singkat yang dapat menentukan seberapa kuat ‘azzam dan ikhtiarnya dalam mewujudkan apa yang telah ia rencanakan.

Di sore hari yang mulai beranjak gelap, seorang anak manusia mulai melafalkan hafalan yang telah ia punya. Ia hendak muraja’ah juz 29 sambil menanti adzan maghrib. Nadin menutup mata, mencoba berkonsentrasi, menarik nafas, dan mulai melantun. Lantunan yang diam-diam didengarkan oleh heningnya rumput, ilalang, dan pepohonan yang berada di sekeliling mushalla sana, dalam tasbih tak putus mereka pada Penciptanya…
***
(to be continued)

Advertisements

2 thoughts on “Melantun Bersama Semesta

  1. Wow baca tulisan ini jadi terpikir untuk ‘melantik diri sendiri’ juga kalau sudah menyelesaikan hapalan nanti. Ide bagus kak untuk memberi penghargaan untuk prestasi pribadi kita. Semangat terus Kak Eza, moga selalu dimudahkan dalam menghapal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s