kelak menjadilah: pemberi syafaat

image

Suatu ketika sehabis shalat, saya kembali termenung. Kali ini tentang hablumminannas. Tentang hubungan saya dengan orang-orang di sekeliling saya. Terutama lagi, dengan orang-orang terdekat saya..

Senin dua pekan yang lalu, tepatnya tanggal 20 april adalah hari lahir adik saya, anak nomer 5; Alghi. Kurang lebih dua hari sebelumnya, kami semua menerima kabar bahwa Alghi berhasil diterima di sebuah pondok pesantren Baitul Quran setelah di awal bulan ia menjalani seleksi dan wawancara. MasyaAllah, alhamdulillah. Sebagai tanda syukur, saya dan husband menyempatkan ke toko buku & stationary untuk membeli hadiah yang tak seberapa; 1 hadiah serius dan 1 lagi hadiah santai (kata husband :D). Hadiah seriusnya berupa buku latihan soal UN karena sebentar lagi Alghi akan menjalani UN SD, sedang hadiah santainya adalah barang yang kelak berguna untuknya saat di asrama nanti. Lalu terpilihlah jam meja dengan warna merah kesukaannya.

Sambil menunggu kado dibungkus oleh petugas di toko buku tersebut, saya berkeliling melihat-lihat. Wah, toko buku ini punya segudang koleksi benda unyu yang sayang kalo ngga dibawa pulang :3 Setiap lihat barang lucu, yang ada di pikiran saya: “nanti mau hadiahin ini ah untuk milad sahabat tersayang nanti.. Terus yang ini untuk A, yang ini buat B.. Dst dst”.

Saya bukan termasuk orang yang rajin lagi rutin memberi hadiah pada teman di hari bahagianya. Bisa dihitung jari lah. Tetapi,, sejujurnya, dari lubuk hati yang terdalam, ingin sekali saya bisa memberi sesuatu untuk orang-orang yang pernah hadir di kehidupan saya, orang-orang baik yang tanpa pamrih memberi kebaikan-kebaikan mereka. Sebagai ucapan terima kasih, sekadar ‘memberi tahu’ bahwa keberadaan mereka amat berarti dalam kehidupan saya. Memori saya mulai me-recall, siapa sajakah orang-orang itu.. Keluarga, tentu saja. Keluarga dekat, keluarga jauh. Teman-teman dekat sejak sd, smp, sma. Teman-teman liqo. Murabbiyah sekarang dan yang dulu-dulu. Guru serta dosen yang amat berjasa. Teman-teman seperjuangan di kampus dan organisasi. Para panitia nikahan dulu. Dan daftarnya kian panjang..

Allah, begitu banyak orang-orang berjasa dalam kehidupanku, sedang kemampuanku untuk sekadar mengiriminya sesuatu yang berharga amat terbatas. Maka ya Allah, jika Engkau menghendaki, hambaMu ini ingin agar kelak bisa menjadi pemberi syafaat di hari kemudian.. Syafaat untuk tujuh puluh orang terpilih.. Karena mungkin saja, itulah bentuk ucapan terima kasih sekaligus pemberian berharga yang paling hakiki..

Tak lupa, menyertakan mereka dalam doa-doa hening yang tak mereka ketahui, namun didengarNya…

Advertisements

2 thoughts on “kelak menjadilah: pemberi syafaat

  1. pertamax lg nih hahaha. hmmmm ternyata kita tak jauh berbeda, yakni sama2 ingin memberikan sesuatu kepda org2 terdekat or org2 yg pernah mengisi hidup kita, dengan sesuatu yg mgkn simple tapi sebagai pertanda bahwa kehadiran mereka sangat memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup kita, bukan bgt bunda ayuma :D…..tapi apa daya kemampuan kita blm sebanyak dg keinginan kita tsb hihi. moga Allah mampukan kita, aamiin.
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s