Do’s & Don’ts: Menjenguk Teman yang Baru Melahirkan

image
photo credit: blog.lawyers.com

Selain kabar pernikahan yang membuat kerabat dan sanak saudara turut bahagia, ada lagi kabar bahagia yang juga dinanti-nanti: kabar melahirkan. Apalagi di usia saya, banyak sekali kabar teman menikah atau melahirkan anak pertama. Turut bahagia! Inginnya setiap teman yang melahirkan satu persatu dijenguk, walau kemudian hanya mampu menjenguk yang terdekat saja.

Nah, dalam menjenguk ibu baru ini ternyata ada do & don’t-nya. Karena fisik dan psikologis wanita yang baru saja mengalami peristiwa besar dalam hidupnya–melahirkan–membuat hatinya lebih sensitif daripada biasanya, dan ternyata banyak di antara kita yang tak sadar membuat perasaan sang ibu tak nyaman. Oleh karena itu, saya merangkum sedikit adab dalam menjenguk teman yang baru melahirkan versi emaknya Ayuma, hasil dari pengalaman sendiri saat saya baru melahirkan, atau dari pelajaran yang saya ambil saat menjenguk teman. Semoga bermanfaat ya.

1. Beri selamat dan doa
Pastikan hal ini yang pertama-tama kita ucapkan pada sang ibu baru, “selamat ya, sudah menjadi ibu…”. Karena melahirkan adalah gerbang menuju fase kehidupan selanjutnya dari fase pernikahan, di mana kehidupan setelahnya tidak akan lagi sama. Hari-hari sang ibu baru akan selalu tentang si bayi; menyusui, memandikan, mengganti popok, menimang, menidurkan.. Ya, merawat dan mendidik menjadi amanah baru di pundak pasangan yang berbahagia dengan karunia anak yang dinantikan. Jangan lupa juga untuk menyampaikan doa agar si bayi kelak menjadi anak shalih, qurrata a’yun bagi ayah & bundanya.

2. Tidak bertanya atau mengatakan apapun yang bersifat judgemental
Well, ini yang sering dikatakan oleh penjenguk, yang tanpa kita sadari membuat si ibu keki berat dalam hati, atau malah sakit hati,
“kecil ya bayinya..”
“widih, beratmu nambah berapa kilo pas hamil kemaren? Pantes kayak paus..” atau kebalikannya, “ya ampuun, hamil kok kurus begini..”
“normal apa caesar? Kemarin tetanggaku walau kelilit bisa lahiran normal tuh..”
“waduh.. Caesar ya? Sakit banget kan pasti? Katanya pulihnya lama banget..”
“pucet banget sis. Ya ampun, gimana rasanya melahirkan?!”
“asinya keluar ngga tuh? Kayaknya masih dikit banget. Bayinya masih haus, kasian..”
“posisi gendongnya yang betul, biar dedeknya nyaman nyusu..”
“anak perempuan kok belum dipakein anting?”

Believe me, siz, ngga ada orang yang suka ditanyakan sesuatu yang judgemental. Apalagi ibu yang baru kemarin melahirkan, letih dan sakitnya masih terasa banget, kalau ditanya hal-hal macam di atas bisa sensi tingkat tinggi. Maka kita harus ingat hukum alam yang berlaku untuk ibu hamil dan ibu melahirkan: senangkan hatinya. Kewajiban menyenangkan hati ibu hamil ini bukan hanya untuk suaminya lho, tapi juga orang di sekelilingnya. Why? Karena mereka tengah mengandung janin yang dinanti umat. Siapa yang tahu, si bayi kelak menjadi orang besar, bahkan khalifah di muka bumi.

3. Tidak sok tahu dengan mengatakan si bayi mirip siapa πŸ˜€
Ini salah satu hal yang paaaaling sering diucapkan penjenguk ketika melihat si bayi. Padahal secara psikologis, sangat mungkin sang ibu merasa sensi jika si bayi dimirip-miripkan dengan orang selain dirinya. Entah tantenya, mbahnya, atau yang lain. Apalagi, “mirip siapa ya? Kayaknya ga mirip ayah ibunya!” -_- Apalagi jika si bayi memang berkebalikan dari sifat-sifat indah yang biasa kita lihat: putih, mancung, cantik/ganteng, berambut lebat, gemuk, and so on. You catch my drift? Jadi, mulai sekarang berlatihlah untuk berhenti memirip-miripkan bayi dengan seseorang. Kecuali jika ia memang mirip ibunya, dan kita menyampaikan itu dengan tulus, juga untuk membesarkan hati sang ibu yang berjuang melahirkannya ke dunia. Lagipula, wajah bayi baru lahir bisa saja berbeda setelah ia besar, bukan?

4. Tidak merepotkan
Terutama jika yang dijenguk memang hanya tinggal berdua, sudah pisah dari orangtua dan tak ada yang membantu di rumah. Jika kita menjenguknya beramai-ramai, inisiatif tawarkan diri untuk mengambilkan minum dan cemilan untuk para tamu.

5. Menawarkan bantuan pekerjaan rumah
Saya kagum dengan ibu Yoyoh Yusroh rahimahallah, yang tak sungkan membantu pekerjaan rumah pemilik rumah ketika ia sedang bertamu, saat ia melihat ada tumpukan cucian piring, lantai lengket, atau mainan anak bertebaran. Apalagi untuk ibu yang baru melahirkan, yang fisiknya masih lemah dengan kemampuan gerak yang amat terbatas. Cucian menumpuk, apalagi cucian popok dan kain si bayi, tapi sang ayah juga tak terbiasa membantu mencuci. Jika kita tawarkan sedikit bantuan, sang ibu pasti amat bersyukur pekerjaan rumahnya dapat sedikit teratasi.

6. Memijiti sang ibu πŸ™‚
Ini pengalaman saya sendiri sewaktu melahirkan kemarin. Ibu saya menjenguk dan melakukan kebiasaannya sejak dulu yang amat saya sukai: memijiti anak-anaknya jika ia melihat anaknya capek. Karena ibu tahu kalau kaki saya pegal luar biasa tersebab terlalu lama selonjoran, ibu memijiti kaki saya. Setelah ibu, gantian uwak saya ikut memijiti. Dan, ajaib! Kaki saya yang hampir varises kembali normal, tidak lagi tampak urat-urat menonjol. MasyaAllah, semoga Allah membalas kebaikan mama dan uwak! :’)

7. Tidak berlama-lama bertamu
Tanpa sadar, kita suka lho berlama-lama menjenguk ibu yang baru melahirkan. Padahal ini berbeda dari bertamu biasa. Sang ibu pasti amat butuh istirahat (baca: tidur) bahkan pada pagi atau siang hari, karena bayi belum bisa tidur nyenyak pada malam hari di awal2 bulan kelahirannya. Bayi-bayi seringkali menangis terus pada malam hari, dan baik ibu dan juga ayahnya pasti selalu terjaga di malam hari. Jadi, jadilah pengertian ya.

8. Bawakan juga sesuatu untuk si ibu
Sebagian besar hadiah yang diberikan kerabat adalah untuk keperluan si bayi, tapi kebutuhan ibu seringkali terluput. Saat setelah melahirkan kemarin, saya senang ada teman yang membawakan susu untuk ibu menyusui. Karena itu, saat teman lain baru melahirkan, husband saya menyarankan untuk menghadiahi suplemen untuk menguatkan fisik dan meningkatkan imun tubuh. Ini penting untuk membantu pemulihan sang ibu. Lalu, apa lagi? Baju kancing untuk ibu menyusui, mungkin? Atau buku saku menangani bayi saat sakit, atau buku kumpulan resep MPASI? Jadi, alih-alih bingung memikirkan hadiah untuk bayi yang mungkin saja sudah banyak dihadiahi orang lain (Ayuma dapat lebih dari 5 set peralatan makan! :D), kita bisa memberi hadiah berupa kebutuhan sang ibu.

Advertisements

6 thoughts on “Do’s & Don’ts: Menjenguk Teman yang Baru Melahirkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s