Koneksi yang Kontinuitas (dari Menara 165)

image
image source: earthspacecircle.blogspot.com

[fbnotes] June 24, 2010 at 8:58 am

A bit of my thinking about ESQ

Sepulang dari ESQ kemarin jadi banyak merenung.

Tentang spiritualitas, tentang anggukan universal, tentang kerinduan manusia seluruhnya pada satu Dzat yang Maha.

Juga tentang follow up sesi pencerahan yang kemarin saya ikuti. Dua kali pencerahan, dua kali tangis-tangisan. Dan seperti yang sudah saya tahu—dan banyak orang katakan—bahwa tidak semua orang yang pernah dicerahkan kemudian berubah drastis kepribadiannya. Dan sayapun seringkali mengalami hal itu. How come? Maksudnya, kita yang ikut training pasti mengharapkan yang sebaliknya. Tapi gimana bisa hal itu dialami oleh sekian banyak orang? Karena menurut saya, akan sangat wasting money, wastingtime, wasting tears kalo saya ikut training atau pencerahan, tapi outputnya Cuma air mata to’. Lain tidak.

Ya, sepulang dari Menara 165 kemarin, saya mikirin hal ini.

Dan sehabis sholat shubuh di shubuh ini, ada satu pemahaman yang tiba-tiba saja muncul di kepala. Pemahaman itu adalah; bahwa ada yang lebih penting dari sekedar mengeluarkan airmata ketika kita ikut training. Apa itu?

Ketika kita di-training, atau diberi pencerahan, saat itulah sang trainer berhasil membuka koneksi antara hati kita dengan Allah. Maka ketika renungan-renungan disampaikan, ayat-ayat Al Qur’an dibacakan, sang trainer sukses menghubungkan kerinduan-universal-diri-kita-yang-tidak-kita-sadari dengan Allah langsung, sehingga kerinduan universal yang sudah ada dalam diri kita itu menemukan jalannya. Tersambung koneksinya. Kita jadi bisa melihat dengan jelas diri kita yang lalu-lalu, mengingat kesalahan hidup apa saja yang kita lakukan, dan kita bisa ‘mengadili’ diri sendiri. Makanya airmata kita sukses berkucuran. Tetapi setelah itu banyak dari kita yang lupa, dan kembali ke tabiat semula.

Nah, hal yang lebih penting dari sekedar mengucurkan airmata itu adalah adanya koneksi berkelanjutan antara kita dengan Allah setelah training, yang kemudian pada hari-hari berikutnya melekat sedemikian rupa dalam diri, sehingga segala bentuk koneksi itu bisa kita rasakan setiap harinya. Kita bisa dengan sendirinya mengingati kesalahan hidup setiap saat, dan akhirnya kita bisa ‘mengadili’ diri kita sendiri, kemudian menangisinya, dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Dan hal-hal itu, kegiatan ‘mengadili diri’ itu, akan berdampak besar pada diri kita jika kita melakukannya secara rutin, kontinuitas, dan denganintensitas yang tinggi.

Ya. Maka kemudian saya menyimpulkan, mereka yang sukses ESQ-nya adalah mereka yang berhasil mempertahankan koneksi antara hatinya dengan Allah yang telah tersambung pada saat training, dania terus berusaha mempertahankan itu hingga ribuan hari berikutnya. Koneksi yang kontinuitas. Dimana hati kita telah punya kesadaran penuh untuk terus ‘terhubung’ dengan Allah, dan karenanya, kita jadi sering ‘mengadili’ diri sendiri, yang kemudian kita ikuti dengan perbaikan-perbaikan di setiap minus dalam diri. Psst, ternyata salah satu indikator keberhasilannya adalah ketika kita telah bisa khusyuk dalam shalat karena kita bisa merasakan betapa Maha Besar Allah, dan betapa kecil kita di hadapanNya. Dan kita banyak menangis karenaNya.

Oh ya, koneksi kontinuitas itu, sederhananya kita sebut dengan dzikrullah.

(untuk yang sudah jadi Alumni 165, kalian pasti lebih tahu banyak daripada saya. Jadi, cmiiw ya? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s