Allah Sedang Menyusun Jejaring Alquran Untukmu

image
source: nakindonesia.tumblr.com

I dedicate this post to my sister in law, En.

“kalo mbak eza motivasi menghafalnya apa mbak?”, tanya adik ipar saya saat ia tengah bercerita betapa menghafal itu tak (selalu) mudah, selalu ada halang rintang. Ya, saat ini En sedang mondok di salah satu rumah Quran baru di jogja. Ketika itu kami sedang mengobrol di sela sesi muraja’ah malam-malam di rumah sleman, yang karena weekend, jadi En sedang jadwalnya pulang ke rumah.

Well, harus dari mana saya mulai bercerita?
***

Jalan hidup yang Allah gariskan telah menyampaikanku pada titik ini, sehingga aku menjadi sebagaimana aku sekarang. Ada banyak fase hidup dengan segudang cerita di baliknya. Termasuk fase di mana aku mulai memiliki keinginan untuk menghafalkan Alquran, menghafal sebaik-baik kalam.

Sejak hijrah semasa SMA, aku tahu bahwa aku terlambat menghafal juz 30, juz yang mungkin sekali sudah dikuasai teman lain sejak usia SD. Aku ingat fragmen di mana aku menggenggam juz amma seukuran kantong di teras kelas XI IPA B, di suatu pagi yang cerah, menunggu bel masuk, sedang mencoba menghafal surat Al ‘Adiyat. Karena mulai Al ‘Adiyat ke depan adalah surat-surat yang belum kuhafal sama sekali. Saat itu sebenarnya aku menghafal dalam rangka memenuhi tugas pelajaran agama islam, namun karena saat itu aku mulai mengerti sosok muslim yang baik itu seperti apa (gara-gara lagi booming novel Ayat-Ayat Cinta, figur muslim kaffah seperti Fahri & Aisha begitu menjadi role model bagi kami para anak Rohis), perlahan aku melanjutkan menghafal hingga tuntas juz 30. Alhamdulillah, Allah mudahkan jalannya. Aku mulai terbiasa menghafal di masjid sekolah dan di angkot dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah.

Lalu kemudian Allah membuka jalanNya lagi saat aku kuliah. Aku dipertemukan dengan orang-orang yang jauh lebih banyak hafalannya. Di angkatan kami, saat itu ada 1 akhwat dan 1 ikhwan yang telah khatam menghafal Quran, yang keduanya kukenal baik seiring berjalannya waktu. Aku juga bersahabat dengan seorang penghafal yang keluarga besarnya telah menjadi hafizh-hafizhah. Aku mencoba mengindera, apa yang sedang Allah kehendaki dengan menempatkan hafizh & hafizhah di lingkaran pergaulanku? Menyadari jawabannya, inilah yang kemudian amat membuat motivasi menghafalku menguat. Sebab Allah tengah menyusun jaring-jaring Alquran untukku. Apakah ini semacam pertanda, bahwa Allah menghendakiku untuk bisa menjadi seperti mereka; menjadi keluarga Allah di muka bumi? Aku tak tahu, dan jika iya, maka aku tak mau sekalipun menyiakannya.

Dimulailah perjalanan menghafal bersama sahabat sejurusanku bernama Tif, yang suatu ketika di mushalla fakultas tercinta, kami mengikrarkan, bahwa kami akan terus bersama menghafal, sampai tunai cita-cita kami menjadi ahlullah, inSyaAllah. 2 juz bertambah dari program saling setor yang kami buat sendiri, dalam jangka waktu relatif singkat. Betapa masa itu adalah hari-hari yang dirindukan, penuh dengan ziyadah dan muraja’ah, sebab setelahnya waktu berlalu dan aktivitas kerja praktik dan penelitian memisahkan kami yang larut dalam kesibukan masing-masing..

2012 aku sempat masuk Rumah Quran, tapi qadarullah hanya sebentar aku mengecap tarbiyah di sana, karena papa telah berpulang ke rahmatullah dan aku begitu ingin menemani hari-hari mama dan kakak serta adik-adikku di rumah. Aku berusaha tetap ke RQ untuk setoran. Tapi menjaga konsistensi itu sulit di saat kita amat butuh lingkungan yang intensif; aku kembali kalah oleh keadaan. Pun setelah menikah dan telah memiliki Ayuma, aku kembali mencoba setor hafalan dengan bolak-balik ke RQ. Belum juga berhasil, seharian di daycare membuatku seperti tak punya waktu menghafal.

Sedangkan Tif makin melesat dengan hafalannya. Ia intensif menghafal setiap hari di sebuah markaz Quran untuk anak-anak milik seorang ustadzah yang merupakan seorang dosen LIPIA. Hampir selesai ia menghafal, dan saya tertinggal begitu jauh..
***

Semakin jauh fase hidup yang telah dilalui manusia, kupikir motivasi untuk menghafal bisa jadi berubah, atau lebih tepatnya, bertambah. Aku telah memiliki Ayuma, dan apakah pelajaran terbaik untuknya selain pelajaran iman dan Alquran? Aku begitu ingin Ayuma memiliki ibu yang mengajarkannya akan nilai-nilai rabbani bersumber Alquran, mengajarkannya kisah-kisah terbaik penuh hikmah, membuatnya akrab dengan lantunan kalamullah, mencintakannya pada kitabullah; mengenalkannya pada Pencipta semesta dan bagaimana mencintaiNya.

Apakah aku akan menyerah dengan semua pengalaman menghafal yang telah kulalui selama ini, dengan berbagai kesibukan ibu rumah tangga yang sering membuatku merasa gelar hafizhah kian jauh? Tidak, aku belum mau lelah. Justru Allah sedang makin menguatkan jejaring Alquran untukku. Allah kembali menempatkan orang-orang pilihanNya di sekelilingku. Aku dipertemukan dengan mantan guru tahsinku di Utsmani, yang beliau telah menyelesaikan hafalannya dalam 5 tahun. Yang darinya, Allah berikan aku kesempatan untuk talaqi dengan seorang hafizhah muda pemegang sanad ke-30 bacaan riwayat imam Hafsh dari ‘Ashim jalur Syatibiyah. NikmatNya yang manakah yang akan kudustakan?
***

Allah menempatkanmu di RQ, En, bukan tanpa suatu tujuan. Cobalah turut mengindera sinyal-sinyalNya, dan begitu kau temukan jawabannya, jangan sekali-kali kau menyiakannya. Sebab Allah tengah menyusun jejaring Alquran untukmu.

Untuk Tif, dan juga semua (calon) peserta tahfizh daycare, bisakah merasakan bahwa Allah tengah menyambungkan jaring-jaring Alquran kita menuju jejaring yang lebih besar; jejaring ahlullah?

Allah, sayangilah kami dengan Alquran. Jadikan ia imam, cahaya, dan petunjuk serta rahmah bagi kami. Jadikan ia taman bunga hati kami. Cahaya bagi dada kami. Jadikan ia kendaraan bagi kami menuju surgamu..

Advertisements

4 thoughts on “Allah Sedang Menyusun Jejaring Alquran Untukmu

  1. Huaaaa…ezaaaa… dulu ka dian di markaz quran, terus setelah lulus pindah ke tempat tahfiz khusus akhwat di deket almanar..sekaranh jauh lagi dr lingkaran ituuu… gimana ya biar bisa lanjut ngafal dengan lingkungan seperti apapun..? ๐Ÿ˜ฆ

    1. dear kak Dian, memang ya kak yang namanya komunitas itu sangat kita butuhkan dalam segala proyek kebaikan. terutama lagi dalam menghafal. idealnya, dengan lingkungan seperti apapun kita bisa tetap menghafal, asal kita punya komunitas. bergabung dengan lembaga tahfizh dirasa menajdi hal yang paling bisa mengikat kita untuk terus menghafal dan menjaga hafalan. kalau kita menghafal sendiri, nampaknya kita akan tenggelam dalam berbagai kesibukan dan banyak excuse dari diri kita sendiri.

      ingin banget setiap kita, terutama para ibu, baik yang stay at home maupun working mom, terus menghafal Quran. karena hafal Alquran seperti memberi ‘hadiah’ tersendiri bagi buah hati, memberi pengajaran terbaik dari sebaik-baik kalam. dengan semangat itu, daycare tempatku mengabdi sedang menggagas program tahfizh untuk para ibu kak, insyaAllah akan jalan mulai tengah september ini. doakan lancar ya kak, dan semoga dapat menjadi jalan penguatan dan kemudahan bagi para ibu untuk menghafal.. :),

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s