Be their very best friend.

kita tengah memikirkan sebuah desain kehidupan. ketika berbicara tentang anak, banyak sekali cabang-cabang pikiran yang berkelebat di kepala kita. persiapan sejak masih di dalam kandungan, kemudian proses kelahiran, kesehatan, pendidikan mereka hingga kuliah.. semuanya kita pastikan agar dapat terencana dengan rapi, presisi. seakan masa depan kita, semua adalah tentang masa depan anak.

kemudian pikiran kita beranjak kepada pribadi anak, akan bagaimanakah kita didik mereka agar menjadi pribadi yang baik lagi membuat perbaikan, dengan karakter yang terpuji, kecerdasan mumpuni.. satu hal tentang ini; kita mungkin amat belajar dari kehidupan masa kecil kita. masa kecil yang mungkin tak terpapar dengan nilai-nilai agama yang cukup untuk menanamkan bibit keimanan dalam dada, namun dengan kemahabaikanNya, beranjak dewasa perlahan kita mengenal jalan Allah, jalan yang sangat kita inginkan untuk pula dilalui oleh keturunan-keturunan kita. maka tertekadkanlah dalam hati, bahwa kita akan berusaha sebaik mungkin mengenalkan jalan ini pada buah hati kita kelak, pada usia mereka yang masih amat dini.

tetapi lalu kita melihat sekitar. begitu banyak orangtua di luar sana yang telah menerapkan pendidikan agama yang kental dalam keluarga mereka. sebagian menuai hasil yang diharapkan, sebagian lagi tampak berseberangan. secara pengamatan yang tampak dari luar, muncul anak-anak yang tak ‘segaris’ dengan orangtua mereka. what’s wrong? padahal kita yakini betul-betul bahwa orangtua mereka tak luput menurunkan segala ilmu kebaikan dan keagamaan.

di sinilah, antara kuasa dan kehendak kita terjarak. sebagai orangtua kita didik anak kita dengan baik, namun ada faktor lain yang membuat jalannya anak kita tak selurus yang kita harapkan. saat anak tumbuh dewasa, sangat mungkin dirinya mengalami pencarian jati diri. pengaruh pergaulan yang kuat tak terelakkan turut membentuk kepribadian mereka. maka kemudian, ketika takdir membawa anak kita pada jalan yang tak sesuai harapan, apa yang akan kita lakukan?

bahwa hidayah adalah sepenuhnya milik Allah, itu pertama yang harus kita yakini. kita orangtua bukanlah pemberi hidayah, melainkan hanya perantara. ketika tugas mendidik mereka sudah kita lakukan dengan baik, maka hasilnya kita serahkan sepenuhnya pada Allah. kalau kita mau membuka mata dan hati kita lebih lebar lagi, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan manusia itu penuh dengan lika-liku, naik dan turun, menjadi berbeda dari orangtua shalih adalah juga bagian dari lika-liku kehidupan, namun cepat atau lambat, dengan kehendak Allah, suatu saat anak akan kembali memeluk jalan lurus yang telah diupayakan kedua orangtuanya. dengan kekuatan doa, serta pendampingan yang menerus dari orangtua.

menjadilah orangtua yang penuh doa. menjadilah orangtua yang tak henti menemani perjalanan hidup mereka, senaik-turun apapun ia. agar kelak ia menyadari bahwa senyaman apapun teman di luar sana, tiada yang dapat menyamai nyamannya kembali ke rumah, ke pangkuan ibu dan ayahanda tercinta. be their home. be their very best friend.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s