Ketika Matahari Sabit

image
"... you can see no fault in the creations of the Most Beneficent. Then look again: "Can you see any rifts?" (67:3)

to witness this solar eclipse surrounded by hundreds of the shalihin after performed shalat kusuf, is like one of the best things that’s ever happen in my life. i feel so nervous, curious, super excited, mixed feelings. the imam recited the familiar surahs yet so deep for us who hear it, the khutbah is so reviving. ya Allah, i’m really grateful for this.فتبارك الله أحسن الخالقين

***
Saya selalu menjadi pecinta langit. Hamparan tak berbatasnya tak pernah gagal membuat saya selalu merasa lebih baik saat menengadahkan kepala. Entah itu pagi, siang, atau malam. Berita-berita tentang astronomi selalu membuat jantung saya berdetak lebih cepat karena terlalu exciting untuk diikuti. Dan datanglah berita itu, bahwa Indonesia akan ‘kedatangan’ fenomena alam langka, Gerhana Matahari Total di beberapa kota provinsi, dan parsial di kota-kota provinsi lainnya. Saya begitu ingin menyaksikan fenomena alam ini, meski hanya parsial. Namun entah di mana, melalui apa. Saya sungguh iri dengan teman-teman astronomi yang selalu dikirim untuk mengamati objek angkasa di berbagai spot tersebar, entah itu mengamati hilal, atau lainnya. Melihat kemungkinannya hampir mustahil, ada setitik kesedihan di hati kecil ini.

Rabu, 9 Maret 2016. Pagi itu terasa berbeda sekali dari biasanya. Saya begitu bersemangat menyambut hari, shalat dengan lebih khusyuk, kemudian semangat bergegas bersiap-siap. Shalat gerhana yang akan dilaksanakan di Masjid UI terjadwal mulai jam 6.00-8.00. Ayuma sudah bangun sejak saya selesai shalat shubuh, dan tanpa rewel, saya menyiapkannya berpakaian, sedang husband sigap memasak nasi goreng untuk sarapan si kecil. Jam 5.45, saat langit masih sedikit gelap, kami berangkat.

Dan betapa kaget kami mendapati antrian parkir motor di MUI begitu panjang, tak pernah saya melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Namun, saya menduga, “ini karena banyak orang datang dalam waktu bersamaan aja, jadinya padat banget,”, kata saya ke husband. Begitu masuk gerbang, saya kembali terkejut melihat area shalat perempuan di lantai dua sudah penuh, sehingga banyak yang sudah menempati selasar selatan, terutama ibu-ibu yang membawa anak kecil. Saya melihat kak Aisy di sana, senior saya di jurusan, bersama dua anaknya, namun saya belum sempat menyapa, karena harus mengejar-ngejar Yuma si petualang. Saya ingin sekali bisa ikut shalat, namun melihat kemungkinannya amat kecil, maka saya putuskan untuk menunaikan amalan lain; berdzikir. Tidak apa, berangkatnya saya ke tempat orang-orang shalat adalah bagian dari meramaikan syiar shalat gerhana, inSyaAllah. Sementara matahari di atas sana terbit kian tinggi, hari tampak cerah.

Seperti ‘telah diatur’ dengan begitu baik, momen gerhana matahari total bertepatan dengan tanggal merah, sehingga seperti tak ada halangan bagi setiap muslim untuk ikut shalat. Maka saya dapati MUI yang semakin dipadati jamaah. Luar biasa penuh, masyaAllah. Dan pukul 6.20, tepat saat gerhana dimulai menurut prediksi, shalat pun dimulai, dengan jumlah jamaah yang membludak hingga di luar pagar masjid. Imam membaca surat Al Mulk dan Al Insan di rakaat pertama. Begitu syahdu. Saya merasakan hari itu adalah hari yang sungguh berbeda, yang mungkin tak akan saya rasakan lagi seumur hidup saya. Allahu akbar..
image

Shalat usai kurang lebih setengah jam kemudian. Disusul khutbah oleh ustadz DR. Yunus Daud, Ayuma yang sepanjang durasi shalat bermain di area dalam masjid mulai bosan dan mengajak keluar area masjid. Saya yang baru saja berusaha menyimak khutbah jadi buyar. Saya ikuti kemanapun si putri kecil kehendaki, dan tiba di luar halaman masjid, ada kak Aisy dan putra-putrinya yang juga sedang bermain. Dan, masyaAllah, seperti ‘telah diatur’ dengan begitu baik, kak Aisy ternyata membawa solar eclipser, kacamata khusus untuk mengamati gerhana matahari, sehingga saat itu saya bisa melihat langsung fenomena alam nun langka ini. Allahu akbar..

Inilah yang disebut ‘ketika keinginan bertemu takdir’. Saya akhirnya dapat menyaksikan langsung matahari pagi yang terik mulai tertutup bulan perlahan-lahan. Seiring makin tertutupnya matahari, langit mulai tampak lebih gelap, seperti saat sore hari, namun entah, bingung rasanya mendeskripsikannya, karena terasa aneh, berbeda, mungkin ini pula yang dirasakan makhluk Allah lain, sehingga burung-burung tak terdengar kicaunya. Hingga puncaknya, 88% bagian matahari tertutup bulan, kenampakannya persis seperti yang terprediksikan, tampaklah matahari sabit. Dan seketika udara menjadi begitu dingin. Allahu akbar, Allahu akbar. Inilah yang pernah disaksikan RasulMu ya Allah, yang membuatnya takut lalu kemudian mengajak ummatnya untuk shalat dan berdzikir kepadaMu..
***
Khutbah yang disampaikan khatib luar biasa, menggugah, menyadarkan titik alfa di hati manusia yang banyak lalai. Memperbaharui rasa takut pada Rabb semesta yang kuasa melakukan apa saja kehendakNya. Momen gerhana matahari kemarin begitu membekas, jika Allah menjadikan 2016 ini yang pertama dan terakhir bagi saya, maka saya bersyukur telah Allah sempatkan saya menyaksikan salah satu tanda kebesaranNya, dan jika Allah kehendaki usia saya sampai di gerhana matahari total berikutnya, maka semoga Allah sempatkan saya menyaksikannya langsung di kota di mana terang menjadi gelap seketika.
***

Credit photo: Total Solar Eclipse from Nico Mendoza’s Facebook, shalat gerhana at MUI is from whatsapp group, i didn’t own this.
Special thanks to kak Aisy atas solar eclipser, Sulis untuk tag-an foto GMT, Prof Thomas Dj, dan Pak Ma’rufin S atas info update seputar GMT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s