#NtMS: janganlah tergoda untuk menjadi biasa

image
source: pinterest

Menjadi ibu rumah tangga sejak 3 tahun lalu, mau tidak mau banyak membawa perubahan pada diri saya. salah satu hal yang jauh berubah adalah intensitas keluar rumah dalam rangka kontribusi. kalau dulu selalu bebas pergi pagi pulang sore (bahkan malam–tentu dengan izin ortu) untuk kuliah, organisasi, pokoknya sebagian besar waktu dihabiskan di luar rumah, sekarang tak bisa lagi begitu. 

saya ini cupu banget, belum berani ambil amanah di ranah masyarakat, satu ranah yang orang bilang merupakan ladang da’wah yang sebenarnya. dua tahun ini saya merasa baru sanggup ambil tanggung jawab sebagai pengelola daycare, ditambah setahun belakangan terjun di lembaga tahsin sebagai pengajar. tentu, aktivitas rutin kedua amanah saya itu tak seintens aktivitas saat di kampus dulu. selalu ada pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakan, ditambah perlu izin suami untuk aktivitas sana-sini, apalagi sudah memiliki si kecil yang masih sangat perlu dibantu segala keperluannya, sehingga bisa dibilang saya jadi manusia rumahan sekarang. dan tanpa disadari, munculah penyakit itu; penyakit kurang produktif, dan godaan untuk menjadi manusia biasa. manusia yang yah, ada atau ngga ada di masyarakat ngga (terlalu) ngaruh keberadaannya.

yes, ibu rumah tangga itu kerjaannya banyak, tapi kalau itu semua sudah selesai dikerjakan, saya rasa ibu rumah tangga termasuk yang punya waktu luang agak banyak, apalagi kalau anak baru satu (ini ada yang mau protes ngga ya? hihi), sehingga sisa waktunya bisa dipakai untuk bersantai. ya doong, kan boleh memberi reward untuk diri sendiri buat santai-santai sedikit setelah melakukan tugas-tugas negara? boleeh sangat. tapi untuk saya pribadi, saya masih mengambil terlalu banyak waktu santai ketimbang melakukan hal-hal produktif. dan itu ternyata sangat melenakan. online, sekrol-sekrol timeline, cek-cek wasap, cuci mata liat barang-barang unyu di instagram (aib banget lah ini), dan masih banyak lagi. keinginan untuk baca lebih banyak buku juga wasalam, karena kayaknya kan lebih asik online ya? begitulah. sehingga kalau kata seorang mantan presiden (presiden kita semua), setiap kita sebenarnya adalah pahlawan, tapi banyak dari kita yang tergoda untuk menjadi biasa. jleb.

dan akhirnya, setelah sekian lama tak merasakan rushing time, pindah dari satu agenda ke agenda lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya, sabtu 26 maret kemarin saya kembali merasakan hal itu. mulai beraktivitas di luar dari jam 6 pagi untuk mengajar, kemudian pergi menempuh jarak jauh untuk memenuhi dua undangan pernikahan orang penting, lalu disambung mengajar lagi dan baru pulang jam 6 sore. rasanya? bahagia. ternyata, untuk berangkat memenuhi janji dan terlebih memenuhi kebutuhan orang lain akan ilmu, itu justru membuat tambah bersemangat, membuat kita lebih merasa berenergi banyak sehingga semuanya itu dijabanin dijalani dengan amat baik. walauu sempat hampir nyerah sepulang dari kondangan di bekasi dengan motoran (galau ya Allah tahsin ngga ya?), tapi justru saya mendapat suntikan semangat setelah membayangkan wajah-wajah murid tahsin yang selalu menanti sabtu sore dengan keceriaan dan banyolan mereka, walau rerata usia mereka sudah kepala empat. tiba-tiba hilang rasa capek, berganti “aku ngga capek kok!”, ketika kemarin husband menawari agar tahsin diliburkan dulu. beneran terasa energinya ada banget!

karena ada banyak agenda, kita jadi memulai hari dengan begitu pagi dan begitu bersemangat, berusaha menyelesaikan apa-apa yang harus dikerjakan di rumah sebelum melesat ke luar, dengan kecepatan di atas rata-rata. pokoknya ngga boleh ada waktu terbuang percuma, semuanya harus pake timing, karena kita berkejaran dengan waktu. semua list kerjaan hari itu disusun rapi meski hanya di kepala, kemudian dikerjakan satu-satu sesuai urutan. ah, betapa indah hidup seperti ini, harusnya ini jadi hashtag #momgoals. agar setiap kita tetap merasa bahwa diri kita adalah pahlawan untuk keluarga kita sendiri, agar kita tak tergoda untuk menjadi biasa, agar kita tetap bisa produktif meski berstatus ibu rumah tangga.

nope, saya ngga sedang pamer tentang kegiatan saya, saya ngga sedang bilang saya sudah menjadi manusia produktif (jauh bangeeet kali), justru saya tengah melecut diri saya sendiri. campaign ini adalah ajakan yang pertama-tama saya tujukan untuk diri sendiri agar saya dapat terpacu untuk melalui setiap detiknya dengan lebih bermakna. sesuatu yang kelak dapat sedikit kita banggakan di akhirat nanti.

“Al wajibat aktsaru minal awqat, kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia.” (Hasan Al Banna)

Advertisements

4 thoughts on “#NtMS: janganlah tergoda untuk menjadi biasa

  1. Ini jleb banget :3
    Aku apalagi, boro-boro aktif di masyarakat, lingkungan kontrakan yang di Sampit itu aduh beda banget, ga kayak di desa, bahkan sama tetangga depan rumah aja ga kenal *parah banget*

  2. Kalau Kak Eza sering ngerasa kurang produktif sampe terasa kurang challenge, aku malah ngerasa terlalu produktif sampe jenuh sendiri. Hehehe. Memang butuh balance ya hidup. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s