Penting Ngga Penting: Tata Bahasa dan Krama dalam Interaksi Maya

Jaman dahulu, interaksi maya via sms dilakukan dengan singkat, padat, dan jelas. Iya, karena dulu tarif sms masih amat mahal (pernah 500 rupiah kalo ga salah). Saking iritnya sampe2 kalau ngetiknya udah lebih dari 160 karakter, harus ekstrim nyingkat2, maksa spy muat&sms ckp dkirim dlm 1x krm aj. Haha, kalah deh teks proklamasi.

Selain singkat, nadanya juga tegas2. Apalagi kalo yg di-sms lawan jenis, sesama pengurus rohis. Itu sms dibikin setegas mungkin biar ngga terkesan mendayu-dayu, biar penerimanya ngga misinterpretasi, menghindari fitnah sebisa mungkin. Nah itulah saya. Wkwk. Dulu standar texting saya singkat, tegas, sebisa mungkin tata kalimatnya baik jadi mudah dipahami, punctuation tepat pada tempatnya, ga boleh pake emoticon smiley kalo ke ikhwan! dan pake huruf kapital untuk huruf pertama penyebutan nama (tapi ngga berlaku untuk penyebutan tempat dan nama diri saya sendiri, entah mengapa, standar ganda ckck).

Di era messenger sekarang, ada sedikit yang berubah. Pertama; ngga perlu effort keras buat nyingkat-nyingkat lagi. Yes ini tentu perubahan positif banget karena text yang disingkat-singkat itu bikin sakit mata kakaaa. Tapi walau demikian masih ada orang yang terbawa era sms, jadi harap maklum xixi, walau bacanya jadi harus berkali-kali dan bikin dahi sedikit berkernyit.

Kedua, nah ini. Sebenarnya subyektif sih terkait cara pandang terhadap kesopanan dalam texting atau berinteraksi dalam dunia maya, terlebih kalo lawan interaksi kita adalah orang yang kita hormati. Hal itu adalah: memberi titik-titik setiap beberapa kalimat.

Salah seorang dosen saya dulu punya gaya texting seperti ini, “kabar ibu baik.. Alhamdulillah.. Dek Eza bagaimana kabarnya..?”, padahal beliau ini dosen matkul Penulisan Ilmiah, yang terkenal amat teliti mengoreksi tatanan bahasa draft skripsi.. Ternyata kita tak selalu harus ber-EYD kalau texting, pake titik-titik banyak sah2 aja 😀 sayang sekali beberapa kali hp saya semacam ter-format sehingga sms2 saya dengan beliau sudah hilang. Tapi dari hal yang tampak remeh ini, saya yang dulunya menganggap kalo banyak titik-titik itu ngga tegas dan mendayu-dayu, jadi berefleksi; beliau punya gaya texting seperti ini pasti ada alasannya. Dan setelah direnungi, gaya texting macam itu sebenarnya mengesankan kelembutan, seolah2 kalau kita berbicara langsung dengan beliau, beliau mengungkapkan dengan kalimat yang lembut dan welcome. Jadi saat baca sms beliau kita bisa memvisualisasikan beliau berbicara dengan kehalusan khas jawanya. Ini tata krama tingkat tinggi dalam berinteraksi, kalau menurut saya. Bahkan kepada mahasiswanya, beliau menggunakan banyak titik-titik, yang artinya beliau tak pandang siapa lawan interaksinya, beliau menjunjung tinggi adab dalam berinteraksi secara maya.

Maka sejak itu, kepada orang-orang yang saya hormati, saya mengikuti jejak beliau. Kepada teman pun demikian, walau tingkat kehalusannya tentu berbeda. saya hampir tak lagi mengetik kalimat2 yang terlalu tegas dan kaku, karena kalau dipikir-pikir kayak tentara aja 😀 and it feels good on me. Berharap lawan interaksi saya juga merasa dihormati dengan gaya seperti itu.

Jadi buat saya sebegitu penting ternyata sebuah perubahan kecil dalam hal texting. Bagaimana menurutmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s