Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah refleksi

Cinta Laki-Laki Biasa (CLB) menceritakan tentang seorang pemuda biasa nan shalih bernama Rafli yang perlahan memiliki rasa pada perempuan cuek tapi rendah hati, pekerja keras, yang berasal dari keluarga kaya raya bernama Nania, yang saat itu sedang menjadi semacam trainee di tempat kerjanya.

Dan Rafli tahu bagaimana cara memuliakan wanita yang ia menaruh hati padanya; ia mengajaknya berta’aruf. Menurut Rafli, ketika seorang laki-laki mengajak perempuan berta’aruf, itu berarti laki-laki tersebut yakin bahwa perempuan tersebut tepat menjadi pendamping hidupnya. Saat ditanya mengapa Rafli mengajak Nania ta’aruf, ia menjawab karena keberadaan Nania memicunya untuk menjadi lebih baik. Dan ketika Nania ditanya mengapa ia memilih Rafli, ia menjawab karena Rafli membuat hatinya nyaman, dan faktor itulah menurutnya hal terpenting dalam membina sebuah hubungan. Kemudian mereka menikah, meski keluarga Nania masih setengah hati menerima Rafli menjadi bagian dari mereka. Karena Rafli terlalu ‘biasa’ untuk mereka.

Rafli-Nania tinggal di rumah yang tak besar, dengan mobil yang tidak mewah, namun itu semua hasil jerih payah Rafli. Dan rumah mungil itu beserta alam di sekitarnya, menjadi saksi kebahagiaan kehidupan rumah tangga mereka. Sederhana, tapi begitu bermakna. Ditambah karunia dua anak menggemaskan yang ketika jalan-jalan harus sedikit berdesakan di mobil Rafli yang tampak multifungsi sebagai truk itu.

Hingga suatu hari Nania mengalami kecelakaan yang menjadi ujian kesetiaan mereka..

Rafli didera ujian bertubi sejak pertama kali ia masuk ke dalam kehidupan Nania. Mertuanya telah begitu sabar ia hadapi. Setelah Nania kecelakaan, kali ini Nanialah yang menjadi ujian bagi Rafli. Ujian yang begitu meremukredamkan hatinya..
***

Saya tidak tahu bagaimana film ini bisa ter-reflect dengan begitu hebat pada diri saya. Begitu menguras seluruh emosi dalam diri saya.

Saya tak henti mengiyakan dalam hati setiap hikmah pelajaran hidup dari setiap scene yang sedang berjalan, sekecil apapun. Yang sedikit-sedikit membuat air mata menggenang di pelupuk.

Tentang betapa kebahagiaan terlalu sempit jika hanya diukur dengan materi. Tentang betapa ujian dalam berumah tangga itu niscaya, dan seringkali datang dari bisik-bisik orang di sekitar kita yang terlalu ikut campur urusan hidup orang lain. Tentang kasih sayang dan bakti kepada ibu yang tidak habis. Tentang betapa kesehatan adalah rizki, yang sewaktu-waktu bisa Allah ambil, tak peduli di masa tua atau muda, dan seketika itu kehidupan kita bisa saja berbalik. Ketika itu hidup terasa gelap dan seperti tak ada harapan. Di sana pula kesetiaan diuji. Dan betapa Rafli dengan kesabarannya yang menyamudera mampu menemani di titik terendah hidup seorang Nania, meski hatinya seringkali remuk, yang ia susah payah bangkit meyakinkan diri bahwa istrinya pasti bisa sembuh..

Saat kucoba terus bernafas
perih terasa, sulit bertahan
rasanya ingin kuberlari
‘tuk mengakhiri, tapi ku tak bisa..

ku tak bisa tanpamu..

Ketika film sampai di scene dengan lagu ini terputar, saya tak kuasa lagi menahan air mata. It broke my heart into pieces..

Kehidupan setelah pernikahan adalah perjuangan tak usai mempertahankan rumah tangga kita. Mengusahakannya agar tetap ‘bernyawa’. Menumbuhsuburkan pohon kehidupan dan cinta.

Rafli yang sederhana, diberi ujian yang luar biasa. Dan perjuangannya mempertahankan cinta dan kesetiaan membuktikan, bahwa siapa saja, meskipun ia bukan siapa-siapa, ketika diuji oleh Allah namun ia bersabar, maka itu bernilai luar biasa.. Dan siapa tahu, itulah yang dapat mengantarkannya ke surga.. Sebab ia menjaga keutuhan rumah tangganya.

Maka film CLB, bagi saya dan husband, adalah simbol kesederhanaan yang membawa kepada keridhaan Allah. Bahwa di mata orang lain, kita mungkin orang biasa, tapi apa yang kita perjuangkan untuk keluarga kita adalah hal luar biasa, yang membuat Allah ridha menurunkan keberkahanNya untuk hidup kita.

Dan ingat, keberkahan terlalu sempit jika hanya diukur dengan materi. Tapi bertambahnya ketaatan, hati yang terlatih untuk bersabar dan bersyukur atas setiap keadaan, tenteramnya hati saat membersamai partner hidup, semoga menjadi tanda-tanda turunnya berkah Allah atas masing-masing kita.

This movie is heartbreaking in the best way.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s