Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah review

Saya dan husband tergolong jarang nonton di bioskop. Dalam setahun bukan hanya bisa diitung jari berapa kali ke bioskop, tapi memang cuma sekali atau dua. Itu pun pakemnya ketat; harus nonton film yang Islami, karena misi kami memang mendukung film-film yang digarap oleh penggiat da’wah, agar film berkualitas bisa bersaing dengan film-film lain.

Sebenernya kami lagi nunggu banget film Ketika Mas Gagah Pergi 2 rilis, tapi sepertinya emang belum waktunya. Terus karena kemarin itu kecolongan ngga nonton Jilbab Traveler karena lagi ngga apdet dan akhirnya udah turun layar, maka kami mulai penasaran dengan film Cinta Laki-Laki Biasa.

Pagi itu dalam rutinitas scrolling timeline-nya husband, doi randomly menemukan review dari beberapa tokoh yang menyebutkan kalau film ini tuh ‘film terbaiknya Asma Nadia’. Wow. Is this movie really that good? Saya yang awalnya kurang minat langsung alert. Ditambah lihat video official soundtrack-nya yang penyanyinya adalah sang pemeran utama film itu sendiri. Yang pada saat itu saya belum tahu namanya (punten pisan abdi mah teu apdet tipi2an).

Singkat cerita dalam keadaan dadakan, kami berangkat ke bioskop, kali ini tanpa Ayuma! Ayuma dijagain adik-adik di rumah mama, main sama kucing. Alhamdulillah nih jadi ada waktu berdua saja bareng husband, which is so rare. Dan, alhamdulillah, keputusan yang tepat banget. Karena sepulang dari nonton kami membawa pulang banyak hikmah dari CLB.. Here’s my review on it.
***

Impressed sama acting pemain-pemainnya di awal-awal film. Nania si calon arsitek, Kang Rafli sang mandor, dan Tole si kuli bangunan. Acting mereka natural banget, dan script-nya terasa pas banget, bahkan banyak banyolnya yang bikin nuansa film ini di awal terasa hangat. Setting-nya bikin pengen standing applause, karena syutingnya beneran di sebuah kawasan pembangunan perumahan yang luas banget. Terus ada scene nikahan Tole yang lokasinya di pinggir kali, tapi kali itu bersih dan bahkan banyak capungnya. Pokoknya instagrammable loh buat foto-foto nature. Pengenalan masing-masing karakter juga berhasil mulus. Kesan pertama ini sukses bikin kita ngeklik dengan film ini dan enjoy mengikuti setiap alur cerita tak terduga berikutnya.

Guess what? Setting yang paling saya suka dari CLB adalah rumah Rafli-Nania yang unik dan membuatku sungguh jatuh cinta pada pandangan pertama! Unik banget, arsitekturnya ga biasa banget, pembagian ruangnya asik, omaygat~ Mengingatkan saya pada film UP-nya Disney. Bahkan salah satu background musik saat ada scene rumah itu menurut saya mirip dengan film UP. Huaa sukaa~ Daan setting kebun tehnya masyaAllah.. Unbearably beautiful. Sukses membuat kangen gunung. Rumah ibunya Rafli yang di Pangalengan juga asri, hangat..

Hampir dari setengah perjalanan film ini menghibur, karena sering bikin haha hihi, tapi tetep inspiring. Tetapi setengah perjalanan berikutnya, keadaan berbalik 180 derajat.

Semua berubah ketika Nania kecelakaan. Ketika semua hal menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk bagi Nania dan juga Rafli. Mampukah mereka bertahan?
***
Meski banyak yang komentar di trailer YouTube kalau jalan ceritanya mirip film barat The Vow, for me it’s nope. Titik fokus ceritanya beda banget, dan justru inilah yang menjadi kekuatan film CLB. Insight tentang bagaimana menjalin hubungan sesuai ajaran agama yaitu dengan menjadikannya partner hidup, mungkin jarang kita temukan di film-film lain. Dan pemahaman inilah yang sedang coba dibangun oleh insan perfilman islami dalam setiap filmnya.

CLB merangkum tema tentang cinta, keluarga, dan kesetiaan. Film ini tidak berkisah tentang cinta semu picisan yang justru jauh dari keberkahan, seperti cerita di banyak film lainnya, tapi ini tentang cinta suci penuh keberkahan, yang patut dijadikan pelajaran bagi siapapun yang menontonnya.

Terima kasih untuk Asma Nadia dan Guntur Soeharjanto, film ini mungkin adalah film dengan insight terbaik yang pernah saya tonton. Semoga CLB menginspirasi setiap sepasang insan agar terus menguatkan ikatan suci mereka, memelihara ‘pohon kehidupan’ mereka, hingga dapat ke surga bersama-sama..

(p.s. film ini membuat malamnya tak bisa tidur dan esoknya mata bengkak..)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s