Di Balik Layar Stiker Donasi

stiker212
Stiker Alumni Aksi Bela Islam

Ini semua berawal dari ide tukar kado halaqah. Saat itu saya lagi nyari ide kado apa yang cocok lagi affordable untuk kesebelas saudari saya ini. Sempet ngajuin agar tukeran kado diundur sepekan lagi karena tanggung bulan hehe, tapi mbak guru ngaji saya super kreatif dengan bilang kalo kadonya ngga mesti sesuatu yang beli, bahkan kita bisa ngasih puisi, taushiyah, atau bahkan hafalan kita pun bisa kita hadiahkan untuk teman-teman kita. Aw swit banget kalo beneran ngasih puisi ;’)

Akhirnya diputuskanlah bahwa kado yang akan saya bagikan adalaaah: stiker taushiyah! Konsepnya adalah membuat quote keren inspiring yang sering bertebaran di medsos tapi cuma- bisa-kita-like-trus-ilang itu menjadi real, ada di hadapanmu, dan siap menginspirasimu setiap hari. Sip, ide udah fixed, siap eksekusi!

Nah tantangannya adalah membuat desain stiker dari masing-masing quote yang dikumpulkan. Dan itu ngga mudah. Dan sudah tentu saya mengandalkan husband dalam urusan ini, yang mana ia sambut dengan amat baik dan bersemangat. It always feels good to always have him in times of need. Laff! Maka 2 hari sebelum hari H tukeran kado, saya mengumpulkan sepuluh quote, kemudian husband mulai mendesain.

Konsep awal saya adalah sepuluh quote tersebut dicetak berulang, jadi setelah desain background-nya satu persatu (yang mana cukup butuh effort) kemudian tinggal kopas sepuluh quote tersebut lalu tinggal mengatur posisinya dalam satu lembar A3 plus (standar mencetak stiker di percetakan adalah harus satu lembar A3 plus, which is quite big). Tapi kata husband, sayang banget kalo satu lembar gede itu cuma diisi sepuluh quote berulang. Dan pas ngga sengaja liat folder images di laptop, ada banyak banget image quote inspiring dengan desain keren. Kenapa ngga itu aja dijadiin stiker? Nah jadi sekalian disclaimer nih, kalo desain stiker-stiker itu mostly adalah quote dari berbagai sumber ya, we didn’t own this.

Eventually, H-2 sore saya udah siap dengan kado versi saya. I’m so excited for that.

Di saat yang sama, sedang ramai diberitakan di sosmed kalau muslim Rohingya di Myanmar sedang dibasmi dengan sadis. Bahkan beberapa foto tentang itu sampai ada warning-nya dari Facebook kalo these images are inappropriate saking sadisnya. Ya Allah selalu ngeri mengingat itu 😥

Sebagai sesama muslim kami ingin banget bantu. Hal paling feasible untuk kami lakukan selain tentu berdoa adalah berdonasi via lembaga kemanusiaan. Tapi apalah kami yang butiran debu, ngga bisa donasi banyak walau ingin banget.

Maka! Husband dengan idenya yang seringkali out of box and connecting the dots itu mulai menyusun rencana penggandaan uang donasi. Tengah malam dia japri beberapa teman dekatnya untuk turut memodali proyek ini. Idenya adalah: berjualan stiker taushiyah, dengan 100% keuntungan didonasikan untuk Rohingya. Yea slay the world, Zain(i).

stikerdonasi
ini stiker donasi yang pertama, berupa stiker quote taushiyah

Jadi gini. Kami merasa orang yang pengen donasi tapi merasa ‘apalah’ itu banyak, sehingga mau transfer dengan nominal sedikit ke lembaga kemanusiaan kok rasanya ngga enak, tak terjangkau, yang akhirnya berujung ngga jadi donasi. Nah misi kami adalah mengakomodir orang-orang yang berpikiran seperti ini dan mengajak mereka, “kantong donasi itu dekat lho dan kabar gembiranya adalah kamu sudah bisa membantu Rohingya dengan dua ribu rupiah saja!”. Ohya, kami bergerak atas nama channel Telegram @IndonesiaLebihBaik. All of you guys kindly join this channel 😉

Dalam waktu singkat terkumpulah modal untuk mencetak stiker. Esok paginya husband langsung berangkat nyetak dan voila, ada tiga ratus lebih stiker yang siap dijual, dua ribu rupiah per stiker. Sorenya saya sudah bawa stiker-stiker itu ke lembaga untuk saya tawarkan ke murid-murid di kelas dan juga teman-teman guru di sana. Terharu saat beberapa murid memborong stiker itu, ada juga yang sengaja beli dengan harga lebih tinggi, “kan buat Rohingya, miss!”

Malam itu juga, husband ada acara mabit dan esoknya lanjut acara sosial. Ini adalah kesempatan besar untuk mendatangi kerumunan dan menjual stiker kami. Masya Allah, di luar dugaan, orang-orang antusias beli stiker ini dan berdonasi dengan sangat mudahnya. Kami tak siakan momen kerumunan lain seperti acara pengajian, silaturrahim, dan juga acara kumpul keluarga. Saat itu, kami menyaksikan tangan-tangan pemurah menyisihkan lembar uang yang dimilikinya untuk stiker kecil kami. Allah, that feeling is priceless. Kami tenggelam dalam haru saat saling mengabarkan kalau ‘dagangan’ kami laku keras.

Dan hari itu pun datang. Beberapa hari sebelum Aksi Super Damai. Hari di mana diprediksi akan kembali ada lautan manusia di Monas sana untuk menyuarakan keadilan. Satu peluang besar untuk kembali menggalang donasi. Dengan gerak cepat, husband kembali desain stiker. Karena momennya adalah Aksi Bela Islam, maka stiker yang ia buat adalah khusus dipersembahkan untuk hari itu: stiker Alumni Aksi Bela Islam 212. Ya, kami optimis sangat kalau partisipan aksi nanti akan sangat antusias untuk membeli. Dalam waktu singkat husband sudah mendapat donatur. Tinggal cetak, kemudian mencari relawan yang mau ikut menjualkan stiker pada hari H.

Hingga malam sebelum aksi, husband sudah gencar mencari relawan yang akan bertugas. Ia sebar BC ke grup-grup WhatsApp yang sekiranya bisa terjaring relawan dari sana. Ternyata nihil. Ada yang bersedia, namun untuk ketemu menyerahkan stiker itu sulit karena ia tinggal jauh dari Depok. Malam itu, saya sudah mulai putus asa. Saya mengkhawatirkan husband yang harus menjual stiker itu sendirian jika memang ngga ada sama sekali relawan yang bisa ikut berjualan. Tampak tidak efektif. Dan saya ngga tega kalau husband bener-bener single fighter untuk itu. Saya sarankan ia untuk mengurungkan niatnya, karena memang ngga ada yang bisa bantu. Saya bilang padanya untuk ngga usah memaksakan diri. Toh dana yang terkumpul dari kerumunan sebelumnya sudah cukup banyak. Kami berdebat cukup panjang. Tapi apa jawaban husband? “maaf, tapi aku akan tetap lanjut walau cuma sendiri.”. Saya ngga bisa bilang apa-apa lagi setelah itu. He left me speechless.

Sampai hari itu pun tiba. Husband dalam kondisi kurang fit tetap berangkat naik kereta. Teman-temannya yang dari Jagakarsa ikut longmarch, berangkat dari jam 4 dini hari, but I said to him, “please just save your energy, you have a huge mission to be accomplished today.”

Seperti keajaiban. Saat masih di Monas, husband lapor via WhatsApp bahwa stikernya habis dalam waktu 30 menit saja. Ya Allah. Haru lagi. Kemudian husband pesan agar mama diingatkan untuk proaktif menawarkan stikernya kepada sesama partisipan aksi. What? Ya, mama dan kakak saya ikut aksi dan H-1 sore husband sempat menitipkan stiker ke mama saya untuk dijual saat aksi. Baiklah. Mommy you are my last hope now. Sayangnya saat itu hujan dan belum banyak stiker yang terjual, dan banyak dari stiker itu yang kena basah. Tapi mama akan tetap mengusahakan menjualkan stiker-stiker itu. Hingga jelang ashar kakak saya tahu-tahu melapor bahwa hasil penjualan stikernya saat itu mencapai 835.000 rupiah. Allahu akbar.

stiker212-2
my sissy with the donation poster on her back

Total donasi yang berhasil kami kumpulkan dari kerumunan plus Aksi Bela Islam adalah sebesar 3.560.000 rupiah. Dana tersebut telah kami salurkan melalui lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap.

Ngga nyangka banget donasi yang dikumpulkan bisa sebesar itu. KuasaMu, ya Allah :’) walau kami sendiri ngga mampu donasi banyak, tapi semoga lelah yang sedikit ini bisa bernilai di sisi Allah. Berharap kelak di akhirat menjadi saksi. Rabbana taqabbal minna..

a gazillion thanks to you, husband.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s