Author: ezzadine

Menyimak tilawah Uti

Meet Uti. Beliau adalah ibu dari murid tahsin saya; seorang dokter spesialis anak yang usianya tak jauh berbeda dari usia ibu saya (i call her ‘Ibu’ because she’s so kind and warm and everything). Jika dikira-kira, maka usia Uti saat ini sekitar hampir 80 tahun. Surprisingly, Uti masih tampak sangat sehat, beliau tinggal di Surabaya, namun sering sekali berkunjung dan stay di Depok. Fisiknya masih sangat mendukung untuk beliau wara-wiri, masyaAllah.

Pekan lalu ketika jadwal mengajar di rumah Ibu A, untuk kesekian kalinya saya berkesempatan untuk menyimak bacaan quran Uti. Saat itu, Uti sedang membaca surat Al Anbiya, surat ke-21, dengan Alquran Indonesianya yang setia menemani. Seperti biasa, Uti sangat teliti, panjang-pendeknya tak ada yang terlewat, mad bendera juga tertib, dan makhrajnya tepat. Dan ketika sampai di ayat 69:
Continue reading “Menyimak tilawah Uti”

Advertisements

Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba

Sudah cukup lama sejak pertama kali saya mendengar tentang Institut Ibu Profesional (IIP). Dari namanya saja sudah cukup membangkitkan rasa penasaran sekaligus antusiasme saya terhadap IIP ini, menerka-nerka sehebat apa program dan kurikulumnya, dan membayangkan akan sekeren apa ibu-ibu masa kini jika semuanya mengikuti kelas IIP. Apalagi, IIP didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani, nama yang tak asing lagi di dunia parenting, juga karena keberhasilannya mengembangkan setiap potensi unik anak-anaknya sehingga menjadi anak-anak yang unggul seperti sekarang. Membaca profil dan keseharian Ibu Septi Peni, ingin rasanya bisa seperti beliau yang me-manage keluarganya dengan amat baik.

Lama menunggu, info pendaftaran angkatan baru baru tak kunjung datang. Entah mungkin kurang update, tahu-tahu saya sudah ketinggalan IIP Batch 3…

Continue reading “Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba”

Mengambil Keberkahan dari Guru

Januari lalu, saya terlibat di kepanitiaan sebuah acara untuk adik-adik SMA yang bertempat di Masjid Balaikota Depok. terlibatnya udah dari November ding, dan Januari itu hari-H nya. Hari itu saya harus membawa Ayuma setelah saya selesai jaga meja registrasi di pagi hari, karena acara beralangsung sampai sore dan saya tidak ingin meninggalkan Ayuma di rumah seharian.

Singkat cerita, ketik tiba di sesi acara terakhir, pembicara kami yaitu Ibu DR. Sitaresmi sudah datang ketika hiburan dari panitia masih berlangsung, maka beliau bersama LO-nya menunggu di shaf belakang peserta dekat pintu, tempat di mana saya dan Ayuma bermain ketika itu. Beliau menyapa saya dan Ayuma hangat, bertanya nama, mengajak ngobrol ringan. Beliau sangat memaklumi keadaan saya yang sebagai panitia harus sambil momong anak 😀 Pengen banget nyimak materi beliau, sang asabiqunal awwalun dalam tarbiyah, tapi keadaan kurang memungkinkan ketika Ayuma berlarian kesana-kemari dan puncaknya mengajak main di luar masjid. Jadi saya mencuri dengarpun ngga bisa lagi.

Tapi kemudian saya ingat adab terhadap guru yang santri-santri di pesantren maupun bapak-bapak anggota majelis Rasulullah sering lakukan. Adab itu ialah mengambil keberkahan dari sang guru.  Maka ketika acara selesai dan Ibu Sitaresmi berjalan menuju parkiran untuk pulang, yang kebetulannya adalah lokasi di mana saya dan Ayuma sedang main layangan, saya bersegera menyalami beliau, mengucapkan terima kasih atas ilmunya, dan meminta doa dari beliau. Meminta doa agar saya dan keturunan saya bisa mengikuti jejak beliau dalam da’wah, yang kemudian beliau aminkan dengan doa redaksi beliau sendiri…

Alhamdulillah. Seusai mengikuti kajian saya selalu berusaha mengambil kesempatan meminta doa dari pengisi acara. Siapa yang tak ingin didoakan orang shalih? Kalau ada kesempatan, sekalian minta foto bareng tidak mengapa 😀 tetapi jangan lewatkan kesempatan minta didoakan. it really is a precious moment.

We Are All Blinded

blinded

Adakah di antara ibu-bapak di sini, yang begitu anak lahir, sudah tahu bagaimana mengurus bayi, menyiapkan mpasi, mengajarkan pendidikan karakter, tanpa sebelumnya baca referensi, atau minimal tanya-tanya, tentang itu semua?

No, we are all blinded.

Kita hanya dibekali insting menyayangi, melindungi buah hati kita. Tetapi ilmu, ilmu harus dicari ke luar sana. Ia tidak automatically ter-install sesaat setelah kita menyandang status orangtua.

Because we are all blinded.

Continue reading “We Are All Blinded”

Di Balik Layar Stiker Donasi

stiker212
Stiker Alumni Aksi Bela Islam

Ini semua berawal dari ide tukar kado halaqah. Saat itu saya lagi nyari ide kado apa yang cocok lagi affordable untuk kesebelas saudari saya ini. Sempet ngajuin agar tukeran kado diundur sepekan lagi karena tanggung bulan hehe, tapi mbak guru ngaji saya super kreatif dengan bilang kalo kadonya ngga mesti sesuatu yang beli, bahkan kita bisa ngasih puisi, taushiyah, atau bahkan hafalan kita pun bisa kita hadiahkan untuk teman-teman kita. Aw swit banget kalo beneran ngasih puisi ;’)

Akhirnya diputuskanlah bahwa kado yang akan saya bagikan adalaaah: stiker taushiyah! Konsepnya adalah membuat quote keren inspiring yang sering bertebaran di medsos tapi cuma- bisa-kita-like-trus-ilang itu menjadi real, ada di hadapanmu, dan siap menginspirasimu setiap hari. Sip, ide udah fixed, siap eksekusi!

Continue reading “Di Balik Layar Stiker Donasi”