Author: ezzadine

Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba

Sudah cukup lama sejak pertama kali saya mendengar tentang Institut Ibu Profesional (IIP). Dari namanya saja sudah cukup membangkitkan rasa penasaran sekaligus antusiasme saya terhadap IIP ini, menerka-nerka sehebat apa program dan kurikulumnya, dan membayangkan akan sekeren apa ibu-ibu masa kini jika semuanya mengikuti kelas IIP. Apalagi, IIP didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani, nama yang tak asing lagi di dunia parenting, juga karena keberhasilannya mengembangkan setiap potensi unik anak-anaknya sehingga menjadi anak-anak yang unggul seperti sekarang. Membaca profil dan keseharian Ibu Septi Peni, ingin rasanya bisa seperti beliau yang me-manage keluarganya dengan amat baik.

Lama menunggu, info pendaftaran angkatan baru baru tak kunjung datang. Entah mungkin kurang update, tahu-tahu saya sudah ketinggalan IIP Batch 3…

Continue reading “Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba”

Mengambil Keberkahan dari Guru

Januari lalu, saya terlibat di kepanitiaan sebuah acara untuk adik-adik SMA yang bertempat di Masjid Balaikota Depok. terlibatnya udah dari November ding, dan Januari itu hari-H nya. Hari itu saya harus membawa Ayuma setelah saya selesai jaga meja registrasi di pagi hari, karena acara beralangsung sampai sore dan saya tidak ingin meninggalkan Ayuma di rumah seharian.

Singkat cerita, ketik tiba di sesi acara terakhir, pembicara kami yaitu Ibu DR. Sitaresmi sudah datang ketika hiburan dari panitia masih berlangsung, maka beliau bersama LO-nya menunggu di shaf belakang peserta dekat pintu, tempat di mana saya dan Ayuma bermain ketika itu. Beliau menyapa saya dan Ayuma hangat, bertanya nama, mengajak ngobrol ringan. Beliau sangat memaklumi keadaan saya yang sebagai panitia harus sambil momong anak 😀 Pengen banget nyimak materi beliau, sang asabiqunal awwalun dalam tarbiyah, tapi keadaan kurang memungkinkan ketika Ayuma berlarian kesana-kemari dan puncaknya mengajak main di luar masjid. Jadi saya mencuri dengarpun ngga bisa lagi.

Tapi kemudian saya ingat adab terhadap guru yang santri-santri di pesantren maupun bapak-bapak anggota majelis Rasulullah sering lakukan. Adab itu ialah mengambil keberkahan dari sang guru.  Maka ketika acara selesai dan Ibu Sitaresmi berjalan menuju parkiran untuk pulang, yang kebetulannya adalah lokasi di mana saya dan Ayuma sedang main layangan, saya bersegera menyalami beliau, mengucapkan terima kasih atas ilmunya, dan meminta doa dari beliau. Meminta doa agar saya dan keturunan saya bisa mengikuti jejak beliau dalam da’wah, yang kemudian beliau aminkan dengan doa redaksi beliau sendiri…

Alhamdulillah. Seusai mengikuti kajian saya selalu berusaha mengambil kesempatan meminta doa dari pengisi acara. Siapa yang tak ingin didoakan orang shalih? Kalau ada kesempatan, sekalian minta foto bareng tidak mengapa 😀 tetapi jangan lewatkan kesempatan minta didoakan. it really is a precious moment.

We Are All Blinded

blinded

Adakah di antara ibu-bapak di sini, yang begitu anak lahir, sudah tahu bagaimana mengurus bayi, menyiapkan mpasi, mengajarkan pendidikan karakter, tanpa sebelumnya baca referensi, atau minimal tanya-tanya, tentang itu semua?

No, we are all blinded.

Kita hanya dibekali insting menyayangi, melindungi buah hati kita. Tetapi ilmu, ilmu harus dicari ke luar sana. Ia tidak automatically ter-install sesaat setelah kita menyandang status orangtua.

Because we are all blinded.

Continue reading “We Are All Blinded”

Di Balik Layar Stiker Donasi

stiker212
Stiker Alumni Aksi Bela Islam

Ini semua berawal dari ide tukar kado halaqah. Saat itu saya lagi nyari ide kado apa yang cocok lagi affordable untuk kesebelas saudari saya ini. Sempet ngajuin agar tukeran kado diundur sepekan lagi karena tanggung bulan hehe, tapi mbak guru ngaji saya super kreatif dengan bilang kalo kadonya ngga mesti sesuatu yang beli, bahkan kita bisa ngasih puisi, taushiyah, atau bahkan hafalan kita pun bisa kita hadiahkan untuk teman-teman kita. Aw swit banget kalo beneran ngasih puisi ;’)

Akhirnya diputuskanlah bahwa kado yang akan saya bagikan adalaaah: stiker taushiyah! Konsepnya adalah membuat quote keren inspiring yang sering bertebaran di medsos tapi cuma- bisa-kita-like-trus-ilang itu menjadi real, ada di hadapanmu, dan siap menginspirasimu setiap hari. Sip, ide udah fixed, siap eksekusi!

Continue reading “Di Balik Layar Stiker Donasi”

Om Telolet Om; Bahagia Itu Memang Sederhana!

Masih hangat yaa kemarin saat sedang viral-viralnya Om Telolet Om, rasanya seisi Indonesia turut bahagia melihat fenomena ini bisa mendunia dengan hal yang sederhana banget, yaitu ketika request Om Telolet Om anak-anak di pinggir jalan dibalas telolet oleh supir-supir bis besar, mulai dari yang singkat sampe panjang banget satu bait lagu hehe. Saya sendiri sekali-kalinya liat live bis telolet pas lagi mau berangkat ngajar, saat itu telolet belum viral, jadi ada bis gede melintas di jalan Akses UI dengan bunyi klakson super kenceng membunyikan not lagu ‘Abang-Abang Bakso’. Otomatis bis itu menyita perhatian orang-orang  banget. Dan apa yang dirasakan saat denger lagu itu? Lucu, dan senang 😀 Tapi postingan ini ngga membahas tentang telolet. Ini adalah postingan edisi pulang kampung akhir tahun 2016. jeng jengg

Jadi ceritanya, Alhamdulillah biidznillah kami jadi jugaa pulang kampung ke Jogjaa setelah sebelumnya maju-mundur, masyaAllah ternyata rizki dari Allah datang dari arah yang tak disangka-sangka. Senin malam tanggal 19 Desember, berangkatlah kami ke Jogja naik kereta Progo yang jadwalnya memang berangkat malam, jam 22.30. Sedikit cerita singkat, kami menuju Stasiun Pasar Senen dengan commuter line, dari yang dijadwalkan jam 19.30 molor jadi jam 20.30, karena husband sedang ngga fit.  Jadilah kami sampe di Stasiun Pasar Senen jam 22.00, yang setelah turun kereta, kami literally laaariii nyusurin lorong terowongan menuju jalur kereta Progo dengan tas di punggung dan saya menggendong Ayuma. Ya Allaaah rasanyaa. Saat lari saya mbayangin ibu-ibu di Aleppo, yang mungkin harus lari menggendong anaknya menghindar dari serangan rudal atau bahkan lari mencari pertolongan saat anaknya terluka T_T dengan semangat ibu-ibu Aleppo itu, saya lari sekuat tenaga, pokoknya harus cepet sampe dan duduk di kursi kami.. Alhamdulillah berhasil. Pfiuh ini pertama kalinya harus lari ngejar kereta ke Jogja, semoga yang terakhir..

Continue reading “Om Telolet Om; Bahagia Itu Memang Sederhana!”