Category: reviews

One Great Invention: Mushola Truck!

Satu kata: keren.
Another awesomeness di event 3rd UI-IBF kemarin adalah adanya Mushola Truck. Jadi ceritanya saya dan Atif mau shalat zhuhur, nah tempat shalat yang disediakan panitia itu agak jauh yaitu di bawah gedung Annex, sedangkan kondisinya Atif bawa stroller jadi agak sulit menuju ke sana. Akhirnya kami mutusin untuk shalat di Mushola Truck yang lokasinya dekat pintu masuk UI-IBF. 

Mushala Truck ini adalah truk yang dijadikan tempat shalat, lengkap dengan karpet sajadah, alat shalat yang bersih serta air kran bersih untuk wudhu. Truk ini sudah diposisikan kemiringannya sesuai kiblat, jadi ngga bingung lagi soal arah kiblat. Impressed banget sama ‘mushola berjalan’ ini karena keren dan nyaman fasilitasnya, dan terbukti ngebantu orang yang mau shalat tapi sulit menjangkau bawah gedung Annex. 

Awalnya saya kira Mushola Truck ini disediakan oleh panitia juga sebagai alternatif tempat shalat, ternyata bukan lho. Yang nyediain mushola ini ternyata Resto Wong Solo (@wongsolo_resto), salah satu resto peserta stand kuliner UI-IBF. Kalo sedikit ngintip akun IGnya, resto ini termasuk yang terdepan membantu korban bencana banjir Bantul kemarin dengan menyalurkan ribuan paket makan, sembako, peralatan sekolah, serta truk mushola ini. Keren bgt 😭 Resto Wong Solo juga nyediain Mushola Truck di event besar yang biasanya kurang memperhatikan akses shalat. Kabarnya mushola mobile ini bisa disewa dan biayanya 0 rupiah alias gratis. Wow! 

Ide truk mushola aja udah out of box banget (meski ini bukan yang pertama, saya pernah lihat juga pas aksi Palestina kemarin), bikin truk mushola dananya ngga sedikit, udah gitu kalo yg ngadain semacam lembaga kemanusiaan itu udah umum ya, tapi ini resto gaes. Semoga berkah ya orang-orang dibalik Mushola Truck ini!

#30haribercerita 

#30HBC1805

Advertisements

Ice Jacket Challenge di UI Islamic Book Fair 2017

Ikutan truck freezer di event UI Islamic Book Fair di Balairung 🙂 seru!

#30haribercerita kali ini mau cerita tentang 3rd UI-IBF kemarin aja yaaa

Kami baru ke sana di dua hari terakhir, yaitu hari jumat dan sabtu 29 & 30 Desember. Di hari jumat unexpectedly ketemu sahabat-sahabat jaman di kampus, yaitu Atif dan Dyfi lengkap dengan krucils 😍

Selain hunting buku, mainan edukatif anak dan kulineran, di sana kami nyobain truck freezer-nya Ice Jacket Challenge. Ada yang pernah dengar? 

Ice Jacket Challenge adalah tantangan untuk merasakan bagaimana musim dingin di negeri Syam. Stand dari Aksi Cepat Tanggap (ACT @actforhumanity ) ini menyediakan simulasi kondisi pengungsi Suriah dan Palestina di musim dingin; ada yang berupa jaket es dengan virtual reality, dan ada yg berupa truck freezer. 

Kami masuk ke dalam truk berpendingin dengan setting camp pengungsian, kemudian di dalamnya kami diperlihatkan video keadaan pengungsi di sana. Mereka tinggal di tenda-tenda yang terbuat hanya dari kain, tidur juga beralaskan kain, dan setiap hari mereka harus pergi jauh membawa galon-galon menuju sumber air untuk kebutuhan minum, yang mana airnya juga tidak jernih dan bisa saja menyebabkan penyakit.

Dengan suhu di dalam truk yang di-setting 20-an derajat celcius dan saya udah kedinginan, ternyata masih jauh banget dengan kondisi asli di sana yang suhunya mencapai 10 derajat celcius. Bayangkan para pengungsi yang menghadapi kondisi tersebut setiap hari 😥

Saya ngga tau kalau di luar event macam ini, gimana caranya untuk bisa nyobain Ice Jacket Challenge. Kalo suatu hari temen2 liat truk ini, langsung deh cobain.

Salut sama ACT yang kreatif bikin campaign out of box kayak gini. Temen2 yuk donasi!

#30haribercerita

#30HBC1803

It’s All Because of Aisha

salah satu teaser dari akun Instagram @filmaac2

​To be honest, I’ve been following @filmaac2 (akun official film Ayat-Ayat Cinta 2) months before it released, it was my most anticipated movie this year. Saya ikutin teaser, trailer, sampe nyimak salah satu video interview khusus dengan Pak Manoj Punjabi sang produser tentang betapa beliau se-passionate itu menggarap film ini (quite a lot of surprising informations there).

Setelah berhasil nonton sepekan setelah tayang perdananya (ngga berani nonton hari pertama karena ngga kebayang antriannya kayak apa), here’s my highlights :

1. Betapa Aisha begitu penting dalam kehidupan Fahri, she’s his partner of life, his real inspiration. Aisha ada dibalik keputusan-keputusan Fahri hingga saat ini, meski Aisha telah hilang selama 7 tahun ketika ia tengah meliput wilayah konflik Gaza, Palestina.

Fahri punya banyak bisnis, itu warisan Aisha dan Fahri hanya melanjutkan amanah istrinya itu.

Fahri bertetangga dengan orang2 yang beragam latar agamanya, itu adalah permintaan Aisha agar Fahri merasa seperti di kampung halamannya yang tetap ‘unity in diversity’.

Fahri tak tanggung-tanggung menolong tetangga terdekatnya yang membutuhkan, itu karena ia benar-benar berharap akan menjadi wasilah ditemukannya Aisha, atau jika Aisha memang telah tiada, ia berdoa agar itu dihitung sebagai kebaikannya Aisha.

Ada scene di mana Fahri memberi sedikit uang pada pedagang perempuan bercadar yang barang dagangannya baru saja dicuri, ia kemudian berkata, “please pray for my wife; Aisha”. See how he still desperately hope that his wife will come back someday? See how he still remembering her in every step he take? di scene ini aja udah maunangis.

*to be continued

#30haribercerita

Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah refleksi

Cinta Laki-Laki Biasa (CLB) menceritakan tentang seorang pemuda biasa nan shalih bernama Rafli yang perlahan memiliki rasa pada perempuan cuek tapi rendah hati, pekerja keras, yang berasal dari keluarga kaya raya bernama Nania, yang saat itu sedang menjadi semacam trainee di tempat kerjanya.

Dan Rafli tahu bagaimana cara memuliakan wanita yang ia menaruh hati padanya; ia mengajaknya berta’aruf. Menurut Rafli, ketika seorang laki-laki mengajak perempuan berta’aruf, itu berarti laki-laki tersebut yakin bahwa perempuan tersebut tepat menjadi pendamping hidupnya. Saat ditanya mengapa Rafli mengajak Nania ta’aruf, ia menjawab karena keberadaan Nania memicunya untuk menjadi lebih baik. Dan ketika Nania ditanya mengapa ia memilih Rafli, ia menjawab karena Rafli membuat hatinya nyaman, dan faktor itulah menurutnya hal terpenting dalam membina sebuah hubungan. Kemudian mereka menikah, meski keluarga Nania masih setengah hati menerima Rafli menjadi bagian dari mereka. Karena Rafli terlalu ‘biasa’ untuk mereka.

Continue reading “Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah refleksi”

Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah review

Saya dan husband tergolong jarang nonton di bioskop. Dalam setahun bukan hanya bisa diitung jari berapa kali ke bioskop, tapi memang cuma sekali atau dua. Itu pun pakemnya ketat; harus nonton film yang Islami, karena misi kami memang mendukung film-film yang digarap oleh penggiat da’wah, agar film berkualitas bisa bersaing dengan film-film lain.

Sebenernya kami lagi nunggu banget film Ketika Mas Gagah Pergi 2 rilis, tapi sepertinya emang belum waktunya. Terus karena kemarin itu kecolongan ngga nonton Jilbab Traveler karena lagi ngga apdet dan akhirnya udah turun layar, maka kami mulai penasaran dengan film Cinta Laki-Laki Biasa.

Pagi itu dalam rutinitas scrolling timeline-nya husband, doi randomly menemukan review dari beberapa tokoh yang menyebutkan kalau film ini tuh ‘film terbaiknya Asma Nadia’. Wow. Is this movie really that good? Saya yang awalnya kurang minat langsung alert. Ditambah lihat video official soundtrack-nya yang penyanyinya adalah sang pemeran utama film itu sendiri. Yang pada saat itu saya belum tahu namanya (punten pisan abdi mah teu apdet tipi2an).

Continue reading “Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah review”