​Hidayah itu apa sih? Sebuah penjelasan mind-blowing 

image source : prophetpbuh.com

Menurutmu, apa itu hidayah? Sesuatu yang datangnya bisa jadi hanya sekali dalam hidup (dan ngga semua orang bisa dapat hidayah), yang kedatangannya akan mengubah cara pandang kehidupan, memperbaiki pemahaman terhadap Islam, yang memperbaiki perilaku sehari-hari menjadi lebih alim?
Bisa jadi demikian. 

Tapi mari simak penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan tentang hidayah (petunjuk, guidance). Menurut beliau, in a very simple way, hidayah adalah diberinya kemampuan memilih opsi yang benar di antara 2 pilihan yang kita hadapi.

Setiap detiknya kita selalu dihadapkan dengan 2 opsi yang harus kita pilih. Saat adzan subuh, kita punya opsi untuk segera bangun atau tetap tidur. Saat melihat hal yang bukan hak kita, ada opsi untuk tetap menatap atau menundukkan pandangan. Saat dimarahi orangtua, ada opsi untuk membalas atau diam. Saat merasa pekerjaan kurang berkah, ada opsi untuk tetap bekerja demikian atau mencari yang lain. Saat teman mengajak hura-hura, ada opsi untuk bergabung atau menolak. Mind-blowing enough? Seumur-umur kenal kosakata hidayah, ngga pernah terpikir sampai ke sini.

Jadi menurut beliau hidayah adalah dikuatkannya seseorang oleh Allah untuk memilih pilihan yang benar di antara 2 pilihan. Benar menurut pandangan Allah ya, bukan menentukan standar sendiri. Dari mana kita bisa tau mana yang benar atau salah dalam pandangan Allah? Dari Al Quran. Kitab yang tiada keraguan padanya.

***

Dalam shalat di setiap duduk di antara dua sujud, ada bacaan doa “wahdinii” (dan tunjukilah aku). Yuk resapi lagi tiap baca doa ini.

#30haribercerita 

#30HDC1802

Advertisements

It’s All Because of Aisha

salah satu teaser dari akun Instagram @filmaac2

​To be honest, I’ve been following @filmaac2 (akun official film Ayat-Ayat Cinta 2) months before it released, it was my most anticipated movie this year. Saya ikutin teaser, trailer, sampe nyimak salah satu video interview khusus dengan Pak Manoj Punjabi sang produser tentang betapa beliau se-passionate itu menggarap film ini (quite a lot of surprising informations there).

Setelah berhasil nonton sepekan setelah tayang perdananya (ngga berani nonton hari pertama karena ngga kebayang antriannya kayak apa), here’s my highlights :

1. Betapa Aisha begitu penting dalam kehidupan Fahri, she’s his partner of life, his real inspiration. Aisha ada dibalik keputusan-keputusan Fahri hingga saat ini, meski Aisha telah hilang selama 7 tahun ketika ia tengah meliput wilayah konflik Gaza, Palestina.

Fahri punya banyak bisnis, itu warisan Aisha dan Fahri hanya melanjutkan amanah istrinya itu.

Fahri bertetangga dengan orang2 yang beragam latar agamanya, itu adalah permintaan Aisha agar Fahri merasa seperti di kampung halamannya yang tetap ‘unity in diversity’.

Fahri tak tanggung-tanggung menolong tetangga terdekatnya yang membutuhkan, itu karena ia benar-benar berharap akan menjadi wasilah ditemukannya Aisha, atau jika Aisha memang telah tiada, ia berdoa agar itu dihitung sebagai kebaikannya Aisha.

Ada scene di mana Fahri memberi sedikit uang pada pedagang perempuan bercadar yang barang dagangannya baru saja dicuri, ia kemudian berkata, “please pray for my wife; Aisha”. See how he still desperately hope that his wife will come back someday? See how he still remembering her in every step he take? di scene ini aja udah maunangis.

*to be continued

#30haribercerita

Why Palestine? 

Why Palestine? 🇵🇸
Ada alasan kenapa Palestina menjadi something that we’ll always look up to.
1⃣ Symbol of a long life struggle. Kehidupan di wilayah yg diokupasi ngga pernah mudah, sesuatu yg ga pernah kita bayangkan untuk terjadi dalam hidup kita. Makanan dibatasi, aliran air dan listrik diputus, jalur-jalur diblokade, dan ga pernah merasakan hidup aman & damai. Hidup mereka susah, tapi mereka berjuang. That’s why, tiap liat bendera Palestina aja harusnya kita banyak2 bersyukur atas hidup kita yg udah bebas merdeka dari penjajah ini dan berusaha struggle atas hidup yg sedang kita jalani.
2⃣ Orangtua yang menanamkan keimanan dengan kokoh pada hati anak2nya. Kalau kalian pernah lihat video anak2 yg diwawancara “di mana Israel?” dan mereka dengan tegas & kompak menjawab, “ngga ada yg namanya (negara) Israel!”, kalian akan lihat betapa orangtua mereka mengajarkan keteguhan iman yg amat dahsyat ke dalam hati mereka. Sama halnya ketika ditanya, “siapa yg cita2nya syahid fii sabilillah?” maka serentak mereka mengangkat tangannya sambil lompat saking pengennya. Bukan hanya di ucapan, tetapi keimanan telah deras mengalir di setiap nadi mereka, tergambar dalam perilaku dan kepribadian tegas mereka. Perhatikan, anak-anak kita masih jauh berbeda dibanding mereka.
3⃣ Kedekatan yang amat kuat dengan Alquran. Ada banyak pengajian Quran di setiap shubuh di setiap penjuru kota Palestina, bahkan di pojok-pojok minimarket. Anak-anak telah hafal 30 juz Quran di usia yg sangat dini. Ibu2 Palestina kalau bertemu akan saling tanya, “anakmu sudah hafal berapa juz?”, bukan hal2 duniawi lagi. It’s really out of this world. 
4⃣ Setiap harinya siap menjemput kematian terbaik. Di sana, setiap hari mereka menyapa ancaman-ancaman terkena rudal, tembakan, atau tangkapan random tentara Israel. Setiap hari mereka terancam kehilangan ayahnya, ibunya, atau kakaknya secara tiba-tiba karena serangan yg dstangnya tak pernah terduga. Suasana hidupa mereka mencekam. Tentara Israel punya senjata lengkap sedang orang Palestina hanya punya batu kerikil di tangan mereka. Maka kita lihat sekali lagi keimanan mereka yang dahsyat; keluar rumah sama sekali tak takut mati. Dan kemudian kita tahu bahwa mereka pasti sudah mempersiapkan kematiannya dengan sebaik-baik persiapan. Mereka telah lama merindukan syahid di saat kita baru mengenal a ba ta.
5⃣ Standar keimanan di di akhir zaman ada pada bumi Syam. This explains everything. 
Maka ngga ada alasan untuk ga peduli Palestina. Ngga ada alasan untuk cuek ketika Al Quds diklaim ibukota Israel. Ngga ada alasan untuk ga berusaha mendukung Palestina dengan cara apapun yg kita bisa, meski hanya lewat status WA atau sekadar ganti profile picture. Palestina sudah seharusnya ada di dalam hati kita, menjadi semangat gerak kita.

Menyimak tilawah Uti

Meet Uti. Beliau adalah ibu dari murid tahsin saya; seorang dokter spesialis anak yang usianya tak jauh berbeda dari usia ibu saya (i call her ‘Ibu’ because she’s so kind and warm and everything). Jika dikira-kira, maka usia Uti saat ini sekitar hampir 80 tahun. Surprisingly, Uti masih tampak sangat sehat, beliau tinggal di Surabaya, namun sering sekali berkunjung dan stay di Depok. Fisiknya masih sangat mendukung untuk beliau wara-wiri, masyaAllah.

Pekan lalu ketika jadwal mengajar di rumah Ibu A, untuk kesekian kalinya saya berkesempatan untuk menyimak bacaan quran Uti. Saat itu, Uti sedang membaca surat Al Anbiya, surat ke-21, dengan Alquran Indonesianya yang setia menemani. Seperti biasa, Uti sangat teliti, panjang-pendeknya tak ada yang terlewat, mad bendera juga tertib, dan makhrajnya tepat. Dan ketika sampai di ayat 69:
Continue reading “Menyimak tilawah Uti”

Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba

Sudah cukup lama sejak pertama kali saya mendengar tentang Institut Ibu Profesional (IIP). Dari namanya saja sudah cukup membangkitkan rasa penasaran sekaligus antusiasme saya terhadap IIP ini, menerka-nerka sehebat apa program dan kurikulumnya, dan membayangkan akan sekeren apa ibu-ibu masa kini jika semuanya mengikuti kelas IIP. Apalagi, IIP didirikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani, nama yang tak asing lagi di dunia parenting, juga karena keberhasilannya mengembangkan setiap potensi unik anak-anaknya sehingga menjadi anak-anak yang unggul seperti sekarang. Membaca profil dan keseharian Ibu Septi Peni, ingin rasanya bisa seperti beliau yang me-manage keluarganya dengan amat baik.

Lama menunggu, info pendaftaran angkatan baru baru tak kunjung datang. Entah mungkin kurang update, tahu-tahu saya sudah ketinggalan IIP Batch 3…

Continue reading “Aliran Rasa dan Kesempatan yang Akhirnya Tiba”