Category: reflections

gempa.

source : chivarolipremier.com

​Suka tidak suka, se-menolak apapun kita untuk mengaitkan bencana alam dengan fenomena saat ini, gempa bumi adalah peringatan untuk setiap jiwa.

Betapa tidak? Kita semua panik seketika saat menyadarinya, spontan beristighfar atau bertakbir, berhamburan keluar rumah atau gedung-gedung tinggi, berusaha menyelamatkan diri dalam ketakutan yang membuat lemas sendi-sendi.

Saat itu yang terbayang adalah dosa dan penyesalan, serta termenung; bersyukur hari ini masih selamat, bagaimana jika tadi aku mati…? Bencana alam bukan lagi ketukan untuk pintu hati, ia adalah dobrakan bagi hati yang selalu lalai. Agar kita betul-betul kembali kepada Allah; menaruh perhatian serius pada perintah-laranganNya yang selama ini masih kita anggap angin lalu.. 

Telah jelas semua perintah dan laranganNya dalam Al Quran, maka siapakah kita yang berani menentangNya;  Sang Penguasa semesta, yang bisa kapan saja mengirim bencana yang lebih dahsyat…?

Advertisements

Kabar kematian yang menghentak 

source : grup WA Iluni
Kabar kematian yang menghentak. Begitu mengoyak kesadaran; sungguhkah kita telah menghayati ‘hidup untuk mempersiapkan kematian terbaik’? Sungguhkah dzikrul maut telah menjadi bagian dari keseharian kita? Benarkah telah terimplementasi iman pada qodho & qadar, yang berarti meyakini bahwa setiap saat bisa saja giliran kita?
Sampai kapan mau hidup bersantai, menunda amal kebaikan dan da’wah

Merasa masih muda, kesehatan masih prima, usia masih panjang

Padahal sudah amat sering kita dengar, kabar kematian datang dari tua-muda, sehat-sakit, tak kenal kondisi
Sampai kapan mau hidup mencari kesenangan dunia

Sedang porsi untuk akhirat amat sedikit dalam 24 jam hari kita, tilawah-murajaah di sisa waktu saja, shalat sunnah nanti saja, toh hanya sunnah
Kapankah kita bisa hidup berperan seutuhnya sebagai hamba

Tahu diri waktu-waktu di mana ada hak Allah untuk diibadahi

Siang untuk berkarya, malam untuk menjatuhkan diri sehinanya di hadapan Rabb semesta

Bertaubat atas dosa-dosa kecil, hatta lintasan hati dan prasangka

Menangis berdoa, meminta dijauhkan dari ‘adzab, meminta rahmat surgaNya

Mensucikan jiwa dalam shalat malam dan syahdu lantunan tilawah Quran

Menanti hingga fajar tiba…

Begitu seterusnya.

Sungguh kematian adalah hal yang paling patut kita persiapkan namun ia menjadi hal yang paling dilupakan

Maka semoga kabar kematian kali ini menyadarkan, wahai jiwa.. Semoga hati kita belum mati sebelum raga tak bernyawa.
(Selamat jalan ustadz Hilman Rosyad Shihab, walau bukan termasuk murid setianya, ku ingin turut memberi salam penghormatan terakhir bersama puluhan jamaah lain yang menyesaki masjid Nurussalam.. sungguh kami merasa amat kehilangan. Tapi semoga Allah telah siapkan tempat terbaik di sisiNya..)

​Hidayah itu apa sih? Sebuah penjelasan mind-blowing 

image source : prophetpbuh.com

Menurutmu, apa itu hidayah? Sesuatu yang datangnya bisa jadi hanya sekali dalam hidup (dan ngga semua orang bisa dapat hidayah), yang kedatangannya akan mengubah cara pandang kehidupan, memperbaiki pemahaman terhadap Islam, yang memperbaiki perilaku sehari-hari menjadi lebih alim?
Bisa jadi demikian. 

Tapi mari simak penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan tentang hidayah (petunjuk, guidance). Menurut beliau, in a very simple way, hidayah adalah diberinya kemampuan memilih opsi yang benar di antara 2 pilihan yang kita hadapi.

Setiap detiknya kita selalu dihadapkan dengan 2 opsi yang harus kita pilih. Saat adzan subuh, kita punya opsi untuk segera bangun atau tetap tidur. Saat melihat hal yang bukan hak kita, ada opsi untuk tetap menatap atau menundukkan pandangan. Saat dimarahi orangtua, ada opsi untuk membalas atau diam. Saat merasa pekerjaan kurang berkah, ada opsi untuk tetap bekerja demikian atau mencari yang lain. Saat teman mengajak hura-hura, ada opsi untuk bergabung atau menolak. Mind-blowing enough? Seumur-umur kenal kosakata hidayah, ngga pernah terpikir sampai ke sini.

Jadi menurut beliau hidayah adalah dikuatkannya seseorang oleh Allah untuk memilih pilihan yang benar di antara 2 pilihan. Benar menurut pandangan Allah ya, bukan menentukan standar sendiri. Dari mana kita bisa tau mana yang benar atau salah dalam pandangan Allah? Dari Al Quran. Kitab yang tiada keraguan padanya.

***

Dalam shalat di setiap duduk di antara dua sujud, ada bacaan doa “wahdinii” (dan tunjukilah aku). Yuk resapi lagi tiap baca doa ini.

#30haribercerita 

#30HDC1802

Menyimak tilawah Uti

Meet Uti. Beliau adalah ibu dari murid tahsin saya; seorang dokter spesialis anak yang usianya tak jauh berbeda dari usia ibu saya (i call her ‘Ibu’ because she’s so kind and warm and everything). Jika dikira-kira, maka usia Uti saat ini sekitar hampir 80 tahun. Surprisingly, Uti masih tampak sangat sehat, beliau tinggal di Surabaya, namun sering sekali berkunjung dan stay di Depok. Fisiknya masih sangat mendukung untuk beliau wara-wiri, masyaAllah.

Pekan lalu ketika jadwal mengajar di rumah Ibu A, untuk kesekian kalinya saya berkesempatan untuk menyimak bacaan quran Uti. Saat itu, Uti sedang membaca surat Al Anbiya, surat ke-21, dengan Alquran Indonesianya yang setia menemani. Seperti biasa, Uti sangat teliti, panjang-pendeknya tak ada yang terlewat, mad bendera juga tertib, dan makhrajnya tepat. Dan ketika sampai di ayat 69:
Continue reading “Menyimak tilawah Uti”

We Are All Blinded

blinded

Adakah di antara ibu-bapak di sini, yang begitu anak lahir, sudah tahu bagaimana mengurus bayi, menyiapkan mpasi, mengajarkan pendidikan karakter, tanpa sebelumnya baca referensi, atau minimal tanya-tanya, tentang itu semua?

No, we are all blinded.

Kita hanya dibekali insting menyayangi, melindungi buah hati kita. Tetapi ilmu, ilmu harus dicari ke luar sana. Ia tidak automatically ter-install sesaat setelah kita menyandang status orangtua.

Because we are all blinded.

Continue reading “We Are All Blinded”