Category: reflections

We Are All Blinded

blinded

Adakah di antara ibu-bapak di sini, yang begitu anak lahir, sudah tahu bagaimana mengurus bayi, menyiapkan mpasi, mengajarkan pendidikan karakter, tanpa sebelumnya baca referensi, atau minimal tanya-tanya, tentang itu semua?

No, we are all blinded.

Kita hanya dibekali insting menyayangi, melindungi buah hati kita. Tetapi ilmu, ilmu harus dicari ke luar sana. Ia tidak automatically ter-install sesaat setelah kita menyandang status orangtua.

Because we are all blinded.

Continue reading “We Are All Blinded”

Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah refleksi

Cinta Laki-Laki Biasa (CLB) menceritakan tentang seorang pemuda biasa nan shalih bernama Rafli yang perlahan memiliki rasa pada perempuan cuek tapi rendah hati, pekerja keras, yang berasal dari keluarga kaya raya bernama Nania, yang saat itu sedang menjadi semacam trainee di tempat kerjanya.

Dan Rafli tahu bagaimana cara memuliakan wanita yang ia menaruh hati padanya; ia mengajaknya berta’aruf. Menurut Rafli, ketika seorang laki-laki mengajak perempuan berta’aruf, itu berarti laki-laki tersebut yakin bahwa perempuan tersebut tepat menjadi pendamping hidupnya. Saat ditanya mengapa Rafli mengajak Nania ta’aruf, ia menjawab karena keberadaan Nania memicunya untuk menjadi lebih baik. Dan ketika Nania ditanya mengapa ia memilih Rafli, ia menjawab karena Rafli membuat hatinya nyaman, dan faktor itulah menurutnya hal terpenting dalam membina sebuah hubungan. Kemudian mereka menikah, meski keluarga Nania masih setengah hati menerima Rafli menjadi bagian dari mereka. Karena Rafli terlalu ‘biasa’ untuk mereka.

Continue reading “Cinta Laki-Laki Biasa: sebuah refleksi”

Ruh-Ruh yang Bersatu Padu

“Al arwahu junudun mujannadah.”

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berbaris padu. Apabila mereka saling mengenal maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”

Semoga engkau atau siapapun di luar sana tak perlu lagi bertanya, siapa yang menggerakkan massa sedemikian banyaknya untuk turun ke jalan besok.

Karena kami yang zhahirnya tidak saling mengenal ini, ruhnya telah lebih dulu bersatu, sehingga tergeraklah diri untuk menyatukan diri dalam barisan di hari jumat nan diberkahi.

Kau, adakah ruhmu jua bersatu padu?

#AksiDamai411

tegas pada diri


Ketahuilah, bahwa tanpa ketegasan, kau takkan pernah membaik. Selamanya kau hanya akan jadi tanah liat.

Ketahuilah bahwa Rabb-mu mentarbiyahmu dengan ujian, tak lain agar engkau menjadi pribadi yang kokoh-tangguh-tegas lagi aplikatif. Jangan pernah menunggu. Sekali Allah memberimu pelajaran, sadarlah segera untuk mengaplikasikannya! Sebelum Allah katakan: Enough is Enough.
#partofme, 2011