Tag: life

Kabar kematian yang menghentak 

source : grup WA Iluni
Kabar kematian yang menghentak. Begitu mengoyak kesadaran; sungguhkah kita telah menghayati ‘hidup untuk mempersiapkan kematian terbaik’? Sungguhkah dzikrul maut telah menjadi bagian dari keseharian kita? Benarkah telah terimplementasi iman pada qodho & qadar, yang berarti meyakini bahwa setiap saat bisa saja giliran kita?
Sampai kapan mau hidup bersantai, menunda amal kebaikan dan da’wah

Merasa masih muda, kesehatan masih prima, usia masih panjang

Padahal sudah amat sering kita dengar, kabar kematian datang dari tua-muda, sehat-sakit, tak kenal kondisi
Sampai kapan mau hidup mencari kesenangan dunia

Sedang porsi untuk akhirat amat sedikit dalam 24 jam hari kita, tilawah-murajaah di sisa waktu saja, shalat sunnah nanti saja, toh hanya sunnah
Kapankah kita bisa hidup berperan seutuhnya sebagai hamba

Tahu diri waktu-waktu di mana ada hak Allah untuk diibadahi

Siang untuk berkarya, malam untuk menjatuhkan diri sehinanya di hadapan Rabb semesta

Bertaubat atas dosa-dosa kecil, hatta lintasan hati dan prasangka

Menangis berdoa, meminta dijauhkan dari ‘adzab, meminta rahmat surgaNya

Mensucikan jiwa dalam shalat malam dan syahdu lantunan tilawah Quran

Menanti hingga fajar tiba…

Begitu seterusnya.

Sungguh kematian adalah hal yang paling patut kita persiapkan namun ia menjadi hal yang paling dilupakan

Maka semoga kabar kematian kali ini menyadarkan, wahai jiwa.. Semoga hati kita belum mati sebelum raga tak bernyawa.
(Selamat jalan ustadz Hilman Rosyad Shihab, walau bukan termasuk murid setianya, ku ingin turut memberi salam penghormatan terakhir bersama puluhan jamaah lain yang menyesaki masjid Nurussalam.. sungguh kami merasa amat kehilangan. Tapi semoga Allah telah siapkan tempat terbaik di sisiNya..)

Advertisements

​Hidayah itu apa sih? Sebuah penjelasan mind-blowing 

image source : prophetpbuh.com

Menurutmu, apa itu hidayah? Sesuatu yang datangnya bisa jadi hanya sekali dalam hidup (dan ngga semua orang bisa dapat hidayah), yang kedatangannya akan mengubah cara pandang kehidupan, memperbaiki pemahaman terhadap Islam, yang memperbaiki perilaku sehari-hari menjadi lebih alim?
Bisa jadi demikian. 

Tapi mari simak penjelasan Ustadz Nouman Ali Khan tentang hidayah (petunjuk, guidance). Menurut beliau, in a very simple way, hidayah adalah diberinya kemampuan memilih opsi yang benar di antara 2 pilihan yang kita hadapi.

Setiap detiknya kita selalu dihadapkan dengan 2 opsi yang harus kita pilih. Saat adzan subuh, kita punya opsi untuk segera bangun atau tetap tidur. Saat melihat hal yang bukan hak kita, ada opsi untuk tetap menatap atau menundukkan pandangan. Saat dimarahi orangtua, ada opsi untuk membalas atau diam. Saat merasa pekerjaan kurang berkah, ada opsi untuk tetap bekerja demikian atau mencari yang lain. Saat teman mengajak hura-hura, ada opsi untuk bergabung atau menolak. Mind-blowing enough? Seumur-umur kenal kosakata hidayah, ngga pernah terpikir sampai ke sini.

Jadi menurut beliau hidayah adalah dikuatkannya seseorang oleh Allah untuk memilih pilihan yang benar di antara 2 pilihan. Benar menurut pandangan Allah ya, bukan menentukan standar sendiri. Dari mana kita bisa tau mana yang benar atau salah dalam pandangan Allah? Dari Al Quran. Kitab yang tiada keraguan padanya.

***

Dalam shalat di setiap duduk di antara dua sujud, ada bacaan doa “wahdinii” (dan tunjukilah aku). Yuk resapi lagi tiap baca doa ini.

#30haribercerita 

#30HDC1802

We Are All Blinded

blinded

Adakah di antara ibu-bapak di sini, yang begitu anak lahir, sudah tahu bagaimana mengurus bayi, menyiapkan mpasi, mengajarkan pendidikan karakter, tanpa sebelumnya baca referensi, atau minimal tanya-tanya, tentang itu semua?

No, we are all blinded.

Kita hanya dibekali insting menyayangi, melindungi buah hati kita. Tetapi ilmu, ilmu harus dicari ke luar sana. Ia tidak automatically ter-install sesaat setelah kita menyandang status orangtua.

Because we are all blinded.

Continue reading “We Are All Blinded”

Om Telolet Om; Bahagia Itu Memang Sederhana!

Masih hangat yaa kemarin saat sedang viral-viralnya Om Telolet Om, rasanya seisi Indonesia turut bahagia melihat fenomena ini bisa mendunia dengan hal yang sederhana banget, yaitu ketika request Om Telolet Om anak-anak di pinggir jalan dibalas telolet oleh supir-supir bis besar, mulai dari yang singkat sampe panjang banget satu bait lagu hehe. Saya sendiri sekali-kalinya liat live bis telolet pas lagi mau berangkat ngajar, saat itu telolet belum viral, jadi ada bis gede melintas di jalan Akses UI dengan bunyi klakson super kenceng membunyikan not lagu ‘Abang-Abang Bakso’. Otomatis bis itu menyita perhatian orang-orang  banget. Dan apa yang dirasakan saat denger lagu itu? Lucu, dan senang 😀 Tapi postingan ini ngga membahas tentang telolet. Ini adalah postingan edisi pulang kampung akhir tahun 2016. jeng jengg

Jadi ceritanya, Alhamdulillah biidznillah kami jadi jugaa pulang kampung ke Jogjaa setelah sebelumnya maju-mundur, masyaAllah ternyata rizki dari Allah datang dari arah yang tak disangka-sangka. Senin malam tanggal 19 Desember, berangkatlah kami ke Jogja naik kereta Progo yang jadwalnya memang berangkat malam, jam 22.30. Sedikit cerita singkat, kami menuju Stasiun Pasar Senen dengan commuter line, dari yang dijadwalkan jam 19.30 molor jadi jam 20.30, karena husband sedang ngga fit.  Jadilah kami sampe di Stasiun Pasar Senen jam 22.00, yang setelah turun kereta, kami literally laaariii nyusurin lorong terowongan menuju jalur kereta Progo dengan tas di punggung dan saya menggendong Ayuma. Ya Allaaah rasanyaa. Saat lari saya mbayangin ibu-ibu di Aleppo, yang mungkin harus lari menggendong anaknya menghindar dari serangan rudal atau bahkan lari mencari pertolongan saat anaknya terluka T_T dengan semangat ibu-ibu Aleppo itu, saya lari sekuat tenaga, pokoknya harus cepet sampe dan duduk di kursi kami.. Alhamdulillah berhasil. Pfiuh ini pertama kalinya harus lari ngejar kereta ke Jogja, semoga yang terakhir..

Continue reading “Om Telolet Om; Bahagia Itu Memang Sederhana!”

[transcript] The Job of A Muslim

person-walking
source: sahealth.sa.gov.au

What is the role of the da’i and how women can fulfill that role?

Our job is not to be da’i, our job is to be a muslim. Ibrahim ‘alaihissalam gave us this deen, the name of this deen and he said, “our Lord, and make us muslims (in submission) to you and from our desdcendants a muslim nation (in submission) to You.” (2:128)

Our role is to be a muslim. never lose that title. This is the title that we are proud of, everything else is a piece of this one tree. Everything else is a fruit of this one tree. Your job in life is not to be a da’i. Your job in life is to be a muslim.

Now, as a muslim, you have lots of responsibilities. Some responsibilities you absolutely have to fulfill every single day. As a parent, i have responsibilities to my child. I have responsibilities to my parents. I have responsibilities to Allah for salah. I have responsibilities of earning. I have these responsibilities everyday, and i have to fulfill them, and i have to try to do justice for all of them.

Continue reading “[transcript] The Job of A Muslim”