Tag: daycare

leaving…

image

I thought it was such an easy decision to make. But in fact, it wasn’t. It’s never been.

Continue reading “leaving…”

Advertisements

memori maret

too many things happened on march to write them down one by one. Kali ini mau nulis resume 5 hal penting yang terjadi pada bulan kemarin. Rasanya akan nano-nano banget, you’ve been warned.

1. Adik Arreta
Our beloved Arreta, anak didik daycare yang paling setia (sudah jadi anak daycare sejak berusia 3 bulan hingga 1y5mo), inSyaAllah akan punya adik πŸ™‚ nah bundanya memutuskan untuk mengadakan syukuran di daycare! MasyaAllah, it’s been honor maam. Dengan hanya mengundang tetangga terdekat, teman yang dulu sempat ikut mengasuh dan mendidik di daycare, serta ibu2 grup diskusi daycare (kak Ifah bunda Azima is included), alhamdulillah acara berlangsung seru. Seruu karena semua tamu undangan bawa baby! Yang masing-masing rempong sama bayi-bayinya. Atif mau nge-MC, bayinya minta ditimang-timang. Saya mau tasmi’ tilawah, si bayi udah merengek minta diboboin (rekor: Ayuma belum tidur lagi dari pagi sampai setengah tiga sore), pokoknya suasana jadi rame karena bayi-bayi! Which is so much fun yet unforgettable πŸ˜€
Continue reading “memori maret”

Husein, the little star on earth (2)

Ada 1 hal yang menjadikan kedua film ini berkorelasi, satu hal yang sama2 menggelayuti pikiran kedua pengajar anak2 spesial ini; kekhawatiran apabila mereka tidak mampu dan tidak didukung untuk belajar, mereka akan ‘kalah’. Mereka akan tenggelam dalam kekurangan.

Hati saya begitu terusik, melihat Hellen, Ishaan. Mereka anak2 yang memiliki potensi kebaikan, apapun itu. Hanya saja tertutupi, karena cacat atau penyakit bawaan. Dan di kemudian, waktu membuktikan, bahwa mereka bisa belajar. Mereka bisa diajarkan. Dan mereka bisa menjadi cemerlang seperti anak lainnya.

Continue reading “Husein, the little star on earth (2)”

Husein, the little star on earth (1)

Namanya Husein, saya mengenalnya pertama kali saat daycare kami buka sejak hari pertama; 6 Januari 2014. Ia berusia 3,5 tahun saat itu. Saya cukup surprise ketika di awal Husein tidak menangis saat ditinggal umminya berangkat mengajar; ia hanya mengangguk kecil saat umminya pamit, kemudian langsung masuk ke daycare dan mulai membongkar kontainer mainan. Oh, ternyata sebelum masuk daycare kami, Husein sudah diikutkan ke Balai Penitipan Anak di sekolah umminya sejak ia berusia 2 tahun, makanya ia sudah biasa ditinggal dan bermain sendiri.

Saat itu kami masih berdua sebagai pengasuh sekaligus pengelola daycare; bu Hani dan saya sendiri. Ketika hari pertama bu Hani mulai mengajarkan huruf hijaiyah, ternyata Husein sudah menguasai seluruh huruf hijaiyah, dari Ψ£ sampai ي, walau masih suka tertukar. Saat main tebak huruf, Husein cepat sekali menebak huruf2 yang ditulis bu Hani, walau sering salah dibanding temannya yg juga seusianya, Askar. Selain cepat (dan teriak bersemangat :D) saat tebak huruf, ia pandai bermain susun balok, secara umum motorik kasar dan halusnya sudah amat baik. Dan sifat Husein yang membuat kami terkagum adalah kedermawanannya. Jika ia punya makanan, maka ia akan membaginya ke semua anak daycare. Ah, betapa manisnya πŸ™‚

Namun ada satu kekurangan pada diri Husein.
Continue reading “Husein, the little star on earth (1)”